Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Produksi Jeruk di Kabupaten Malang Meningkat 43 Ribu Ton

Indah Mei Yunita • Kamis, 26 Maret 2026 | 09:27 WIB
PRODUK LOKAL: Seorang pedagang jeruk di Desa Selorejo, Kecamatan Dau melayani pembeli.
PRODUK LOKAL: Seorang pedagang jeruk di Desa Selorejo, Kecamatan Dau melayani pembeli.

KEPANJEN - Komoditas jeruk menjadi salah satu hasil pertanian unggulan di Kabupaten Malang. Utamanya jeruk siam yang produksinya terus meningkat setiap tahun.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang mengungkap, jumlah produksi jeruk siam pada 2024 sekitar 376,81 ribu ton. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi 420,56 ribu ton pada 2025. Sehingga ada peningkatan 43,75 ribu ton. Dari ratusan ribu ton tersebut berasal dari tiga kecamatan, yakni Poncokusumo, Karangploso, dan Dau.

Wiyono, salah seorang petani jeruk asal Desa Selorejo, Kecamatan Dau mengungkap bahwa dia biasanya menghasilkan sekitar 10 ton per musim. Panen terjadi pada Juli-Agustus. Namun saat panen kedua, tonase akan berkurang sekitar 25 persen.

Baca Juga: Produksi Jeruk di Pangkalan Udara Lanud Abdulrachman Saleh Tembus 420 Ton

Dengan demikian, hanya mendapat 7,5 ton. Jika ditotal mendapat sekitar 17,5 ton dalam setahun. “Kalau lagi musim panen, satu pohon besar bisa menghasilkan sampai 1 kuintal jeruk siam,” ucap Wiyono.

Namun ketika anomali cuaca seperti saat ini produksi berkurang. Buah dalam pohon jeruknya tidak bisa lebat. Sehingga untuk sementara, dia mengambil jeruk dari petani lain untuk dijual di kiosnya. “Jeruk akan bagus saat cuacanya tidak berubah-ubah. Misalnya setelah kemarau sekitar dua bulan, baru hujan. Itu nanti buahnya lebat,” kata dia.

Meskipun anomali cuaca, dia melanjutkan, harga jeruk masih stabil. Yakni sekitar Rp 20.000 per kilogram untuk jeruk siam. Sedangkan untuk jeruk baby atau jeruk iris berkisar Rp 10.000 per kilogram.

Baca Juga: Produksi Turun, Pengunjung Wisata Petik Jeruk di Malang Malah Meningkat

Sementara petani lainnya, Arifin menyebut bahwa produksi jeruk meningkat saat musim hujan. Hanya saja, lanjutnya, bentuk fisik jeruknya kurang menarik, karena rawan terserang lalat buah. “Kalau musim hujan seperti ini, bisa panen 10 ton dari lahan 1.700 meter persegi. Sementara jika musim kemarau, cuma 4 ton, tetapi kualitas dan harganya lebih bagus,” pungkasnya. (yun/dan).

Editor : A. Nugroho
#bps #Kabupaten Malang #Jeruk Siam