KEPANJEN – Ular kerap kali masuk permukiman dan membuat warga ketakutan. Terhitung sejak Januari sampai pertengahan Maret lalu, Damkar Kabupaten Malang sudah mengevakuasi sebanyak 196 kali ular dan sarang tawon.
Komandan Peleton (Danton) Damkar Kabupaten Malang, Andik Minarko, mengatakan bahwa 196 kali evakuasi tersebut terdiri atas 118 evakuasi tawon dan 78 kali evakuasi ular. “Tidak sampai ada yang menimbulkan korban luka-luka, terutama dari yang tawon,” terang dia.
Dia menyebut, evakuasi tawon yang memiliki nama latin vespa affinis itu dilakukan sebagai langkah pencegahan. Artinya, pelapor memanggil damkar untuk menghilangkan sarang tawon dari rumahnya sebelum terjadi serangan. Rata-rata, sarang tawon tersebut tidak berukuran besar dan berada di sudut rumah.
Baca Juga: 22 Ular Masuk Rumah Warga Kabupaten Malang selama Januari
Sementara itu, untuk ular, ada beberapa jenis yang biasa ditangkap petugas, yaitu ular kopi, kobra, piton, welang, dan weling.
Andik menyebut, selama tiga bulan terakhir hampir 50 persen ular yang ditangkap adalah jenis kopi, disusul kobra di urutan kedua. “Ukurannya kecil-kecil, khusus kobra ini kami kebanyakan mendapat anakan, jadi baru menetas,” kata dia.
Kebanyakan ular yang dievakuasi ditemukan di pojok rumah warga yang gelap. Bisa juga di gudang atau kandang hewan yang terbengkalai. “Karena mencari makan dan tempat perlindungan untuk berkembang biak. Jadi tempat yang kotor, gelap, lembap, dan hampir jarang dijamah orang,” imbuhnya. Hal itu juga disebabkan ular yang tergusur dari habitatnya.
Baca Juga: Evakuasi Ular Koros Masuk Rumah Warga
Di sisi lain, damkar jarang mendapat laporan adanya ular piton besar masuk ke dalam rumah. Kasus terbaru terjadi pada 16 Februari lalu di Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji. Seekor piton sepanjang 4 meter ditangkap dalam kondisi perut besar.
“Kemungkinan habis makan ayam di sana. Tapi piton saat ketahuan tidak bisa keluar dari tempat tersebut,” ujar dia.
Andik mengatakan, evakuasi ular biasanya marak terjadi pada musim hujan dan pancaroba, bertepatan dengan siklus perkembangbiakan ular tersebut. Ketika memasuki musim kemarau, evakuasi ular cenderung semakin jarang. (biy/dan)
Editor : A. Nugroho