KEPANJEN – Produksi alpukat di Bumi Kanjuruhan terus meningkat. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang, produksinya pada 2023 mencapai 48.153 ton. Kemudian meningkat menjadi 77.966 ton pada 2024. Hingga akhir 2025 lalu, produksi alpukat juga kembali meningkat menjadi 83.395 ton.
Jumlah tersebut akumulasi dari produksi di 33 kecamatan. Namun terdapat dua kecamatan menjadi penyumbang produksi terbanyak. Yakni Ampelgading yang menghasilkan 21.819 ton dan Wajak yang menghasilkan 11.847 ton. Variannya di antaranya seperti alpukat kelud, vietnam, dan aligator.
Salah satunya budidaya alpukat di Dusun Pandanrejo, Desa Bambang.
“Semua jenis alpukat cocok di lahan ini. Mungkin karena faktor tanah dan ketinggian wilayah,” ucap Penanggung Jawab Kebun Alpukat Pandanrejo Wasono.
Di lahan seluas 8.000 meter persegi tersebut ada sekitar 250 pohon. Mulai alpukat kelud, pangeran, vietnam, hingga aligator. Masing-masing pohon berjarak sekitar 8 meter. Sebab, biasanya, pohon alpukat tumbuh menyamping.
“Kalau sudah produksi, per pohon bisa menghasilkan 50 kilogram per tahun. Produksinya bisa terus-menerus. Setelah dipanen, nanti bisa tumbuh buah lagi,” kata Wasono.
Menurut dia, perawatan pohon alpukat tergolong mudah. Cukup disiram satu hari satu kali serta diberi pupuk kandang selama masa pertumbuhan.
“Kalau sudah besar (sekitar umur 3 tahun ke atas), nanti ditambah sedikit pupuk kimia,” imbuhnya.
Selain itu, dia melanjutkan, di Kabupaten Malang juga dikembangkan alpukat pameling. Alpukat tersebut memiliki tampilan yang berbeda dengan alpukat lainnya. Satu buahnya bisa berukuran 0,8-2 kilogram. Satu pohon alpukat pameling bisa menghasilkan sekitar 4 sampai 5 kuintal.
Seperti diberitakan, alpukat pameling tidak hanya dijual dalam bentuk buah segar. Tetapi juga dalam bentuk frozen. Sehingga produksi alpukat pameling tersebut sudah mampu memberi suplai kepada industri kuliner di Malang Raya. Bahkan, para petani alpukat pun sedang persiapan untuk ekspor.(yun/dan).
Editor : Mahmudan