JABUNG, RADAR MALANG - Setelah absen selama hampir enam tahun, festival kebudayaan Busu Jaman Biyen (BJB Fest) kembali digelar. Festival asal Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung berlangsung meriah sejak Jumat (10/4) lalu. Kemarin (12/4) malam, puncak festival bakal digelar.
Ketua Pelaksana Festival BJB Depi Ari Cahyonk menyampaikan, pada puncak acara tersebut akan ditampilkan berbagai kesenian budaya. Yakni dibuka dengan tari tradisional dan ditutup dengan luduk organik.
”Ludruk organik ini pemerannya masyarakat sini (Dusun Busu) yang tidak memiliki latar belakang seniman. Mereka peternak dan petani di dusun ini,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Malang.
Baca Juga: Peringati World Kidney Day 2026, RS UB Gelar Edukasi Penyakit Ginjal
Cerita yang diangkat yakni Hikayat Keblek. Keblek dalam bahasa Jawa artinya kelelawar. Dia memaparkan, cerita yang ditampilkan itu pernah terjadi di Dusun Busu. Konon katanya, sekitar 1980-an silam, masyarakat di sana terlilit masalah ekonomi hingga terjadi pencurian hasil pangan, seperti beras. Namun, jumlahnya tidak banyak, hanya segenggam cukup untuk satu hari makan.
”Setiap kali ada beras dicuri, bertepatan ada kelelawar yang lewat. Karena itu disebut Hikayat Keblek,” kata pria berusia 36 tahun itu.
Dari cerita itu, dia melanjutkan, disampaikan pesan harus menjaga tabungan demi masa depan yang lebih baik. Dia juga menyebut, peralatan untuk penampilan ludruk itu disiapkan secara mandiri oleh panitia pelaksana. Kemarin, mereka bergotong-royong menyiapkan propertinya.
Baca Juga: Taman Rekreasi Sengkaling Geber Festival Bantengan saat Libur Lebaran
Sebelum acara puncak, rangkaian festival sudah berlangsung sejak Jumat (10/4) lalu. Pada hari pertama, ada pawai budaya pukul 15.00. Kegiatan itu diawali dengan nyadran ke punden dan dilanjutkan dengan tari topeng. Pada hari itu juga ada orasi budaya bertema Hikayat Keblek. Hari kedua juga ada kesenian tradisional Tari Topeng Darmo Langgeng yang dilanjutkan dengan Wayang Topeng.
Selama tiga hari, masyarakat setempat menggelar lapak berjualan makanan dan kerajinan tangan tradisional. Misalnya lupis dan nasi jagung. Ada sekitar 25 lapak yang disediakan panitia. Lapak tersebut berlokasi di depan masing-masing rumah warga, tidak terpusat di satu titik. Lapaknya terbuat dari anyaman bambu dan kayu khas zaman dulu.
”Di setiap lapak, penjual menunjukkan cara membuat produknya. Misalnya dengan menunjukkan proses penggilingan jagung secara tradisional,” pungkasnya. (yun/adn)
Editor : Aditya Novrian