Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pemkab Malang Ungkap 20 Sapi Terjangkit Virus LSD

Indah Mei Yunita • Minggu, 10 Mei 2026 | 15:15 WIB
HARI BESAR: Pedagang dan pembeli sapi untuk hewan kurban memadati area Pasar Hewan di Singosari, Kabupaten Malang kemarin.
HARI BESAR: Pedagang dan pembeli sapi untuk hewan kurban memadati area Pasar Hewan di Singosari, Kabupaten Malang kemarin.

 

KEPANJEN – Berbagai penyakit hewan ternak diwaspadai. Selain terungkap 50-an ekor sapi teridentifikasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Pemkab Malang juga menemukan 20 sapi positif Lumpy Skin Disease (LSD) atau cacar.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang Lusia Endah Sukesi memaparkan, selama empat bulan, pihaknya mencatat 20 sapi yang terserang LSD.

“Saat ini, sapi tersebut sudah sembuh,” ucapnya beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, sapi yang terkena virus LSD akan muncul bentol-bentol seperti cacar di kulitnya. Sehingga dianggap merusak visual ternak tersebut. Selain itu, dia melanjutkan, luka di kulit tersebut juga berpotensi mengarah infeksi bakteri. Oleh karena itu, penanganannya dapat dilakukan dengan perawatan luka.

“Vaksinasi sebagai pencegahan juga ada, tetapi harus diberikan secara mandiri oleh peternak. Pemerintah belum menyediakan vaksinnya,” kata Kesi

Seperti halnya hewan yang terinfeksi PMK, dia mengatakan, daging olahan hewan yang terkena LSD masih dapat dikonsumsi asalkan diproses dengan baik. Selama kondisi ternak fit juga kemungkinan besar aman dari wabah penyakit tersebut.

“Selain LSD, antraks juga harus diwaspadai. Meskipun sampai saat ini nihil kasus,” imbuhnya.

Sebab, dia mengatakan, antraks termasuk penyakit yang sulit diberantas. Penularannya yang melalui spora dari bakteri penyebab antraks dan tahan di tanah dapat menyebabkan infeksi apabila masuk ke dalam tubuh ternak melalui makanan atau minuman.

Ternak yang telah terserang antraks akan mengekskresikan bakteri tersebut menjelang kematiannya. Sehingga jika ternak dengan penyakit antraks dipotong, bakterinya akan membentuk spora. Kemudian menyebar kembali ke lingkungan dan sulit untuk dimusnahkan.

Untuk itu, ternak yang mati karena antraks atau diduga antraks, harus dimusnahkan dengan cara dibakar. Cara lain yang bisa dilakukan adalah dikubur dengan kedalaman minimal 2 meter.

Sementara ternak yang terserang atau diduga antraks harus dipisahkan dari ternak lain. Isolasi sebaiknya di tempat ternak tersebut ditemukan sakit. Jadi, ternak tidak boleh dipindahkan ke tempat lain. ”Penyembelihan maupun perdagangan ternak yang terserang antraks pun sangat dilarang,” katanya.

Namun antraks dapat dicegah dengan menjaga biosecurity.

"Kebersihan kandang, disinfektan dan pemberian vitamin harus benar-benar diperhatikan," kata dia. Menurut dia, selama kondisi ternak fit dan sudah diberi vaksin, kemungkinan besar aman dari wabah penyakit apa saja.(yun/dan).

Editor : Mahmudan
#idul adha #hewan kurban #penyakit PMK