Beras SPHP Kurang Diminati Masyarakat

Ramizard Rafsanjani • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 11:38 WIB
KUALITAS DIPERTANYAKAN: Beras SPHP kemasan 5 kilogram dan 10 kilogram menumpuk di toko sembako Pasar Kepanjen kemarin.
KUALITAS DIPERTANYAKAN: Beras SPHP kemasan 5 kilogram dan 10 kilogram menumpuk di toko sembako Pasar Kepanjen kemarin.

KEPANJEN, RADAR MALANG – Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tak sepenuhnya diminati masyarakat meski harganya terjangkau. Sejumlah konsumen mengeluhkan rasa dan aroma beras tersebut setelah dimasak.

Seorang warga Gondanglegi, Luluk Laila, 49, mengaku membeli SPHP karena beras premium dan medium langka. Dia membeli 10 kilogram untuk kebutuhan sehari-hari. Namun setelah dimasak, lanjutnya, rasa dan aroma tidak enak.

Baca Juga: Bulog Malang Salurkan 500 Ton Beras Premium

“Rasa dan baunya agak aneh. Supaya mengurangi bau dan rasa yang hambar, saya kasih daun pandan,” ujar Luluk kemarin.

Meski demikian, beras tersebut tetap dikonsumsi. Luluk mengatakan, ke depan dirinya tidak ingin membeli SPHP apabila masih tersedia pilihan beras lokal yang sesuai dengan seleranya.

Keluhan juga dirasakan Saiful, pedagang beras di Pasar Kepanjen. Dia mengatakan konsumen rumah tangga cenderung lebih memilih beras lokal, sementara SPHP minim peminat. Padahal selisih harga hingga Rp 20 ribu per kemasan 5 kilogram. Beras SPHP dibanderol Rp 60 ribu, sedang beras medium lokal Rp 78 ribu hingga Rp 80 ribu. “SPHP kurang diminati masyarakat. Mungkin karena kualitasnya kurang,” katanya.

Baca Juga: Beras Premium di Malang Langka, Ini Penyebabnya

Di kiosnya, 75 persen konsumen memilih beras medium lokal, sedangkan SPHP sekitar 25 persen. SPHP lebih banyak dibeli untuk kebutuhan usaha makanan, seperti nasi goreng, dibandingkan kebutuhan rumah tangga.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bulog Cabang Malang M. Nurjuliansyah Rachman mengatakan, SPHP merupakan beras medium sehingga karakteris tiknya memang berbeda dibandingkan premium. Menurutnya, pilihan masyarakat terhadap SPHP juga dipengaruhi selera masing-masing konsumen.

Dia menjelaskan, beras SPHP berasal dari cadangan pangan yang tersedia di gudang Bulog. ”Sementara beras lokal umumnya langsung digiling sehingga karakteristik dan rasanya dapat berbeda,” kata dia.

Nurjuliansyah membantah anggapan kualitas SPHP menurun karena terlalu lama disimpan di gudang. Dia memastikan perawatan terhadap stok beras dilakukan secara berkala setiap bulan.

Meski terdapat keluhan dari sejumlah konsumen, penyaluran SPHP di Kabupaten Malang tetap berjalan. “Sudah 2.800-an ton terjual di Kabupaten Malang sejak Januari lalu. Artinya kan beras tersebut (SPHP) masih diminati,” pungkasnya.(ram/dan)

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Radar Malang
Kurang Diminati Masyarakat Beras Medium Lokal Konsumen Beras sphp