SEKILAS tak ada yang tampak berbeda dari Al-Nafis Kanan Haya Rabbani. Bocah laki-laki berusia 8 tahun itu cukup lincah, seperti kebanyakan anak seusianya.
Itu cukup menggambarkan ketangguhannya hidup berdampingan dengan kanker. Sebelumnya, bocah yang kini duduk di kelas 2 SD itu sempat mengidap leukemia atau kanker darah.
Penyakit itu diidap dia sejak usia tiga tahun. Tak banyak yang tahu terkait sakitnya itu. Bahkan teman-temannya pun tak ada yang tahu jika Nafis, sapaan akrabnya, mengidap kanker.
Itu lah yang menjadi keistimewaan Nafis. Dia tetap tampak seperti anak yang sehat, meskipun keras dan sakitnya obat kemoterapi sempat mengalir di nadinya tiga tahun silam.
Tak ada efek yang berarti bagi Nafis. Rambut rontok yang biasa dialami penderita kanker tak pernah dia rasakan.
Eka Madaniati, ibundanya, mengakui ketangguhan putra semata wayangnya itu. Ada suatu momen yang membuat dirinya merasa tertampar saat mendampingi putranya menjalani pengobatan.
Baca Juga : Bermain Sangat Penting Bagi Anak Penderita Kanker.
Perempuan yang akrab disapa Eka itu bercerita, suatu waktu Nafis pernah mengalami mimisan hebat. Darah terus mengucur dari dalam hidungnya.
Namun, saat itu Nafis tak mengeluh sama sekali. Sebaliknya, sebagai orang tua, Eka turut merasakan sakit, hingga dia tak kuasa menahan air matanya.
”Saat itu Nafis bilang ke saya jangan nangis. Dia bilang dia tidak apa-apa,” ucapnya dengan suara bergetar.
Eka mengatakan Nafis didiagnosis mengidap leukemia sejak usia tiga tahun. Awalnya Nafis hanya demam saja.
Tapi beberapa hari panasnya tak kunjung turun. Hingga akhirnya dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan di laboratorium.
Itu untuk memastikan apa yang sebenarnya dialami putranya. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Setelah hasil tes keluar, dokter menjelaskan bilsa hemogoblin Nafis hanya dua saja. Padahal normalnya adalah 12.
Akhirnya dokter merujuk ke RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
”Saat itu Nafis langsung menjalani transfusi darah merah dan darah putih. Sebab trombositnya pun juga sangat rendah,” ungkapnya.
Setelah menjalani observasi selama dua pekan, hasilnya pun keluar. Nafis dinyatakan kanker oleh dokter. Saat itu, Eka mengaku dunianya menjadi gelap. Dia masih sulit untuk percaya.
”Saya waktu itu berpikir dokternya bohong. Hanya nakut-nakutin saja,” ucapnya dengan nada berat.
Namun, setelah mendapat penjelasan dari dokter, Eka mulai belajar untuk menerimanya. Singkat cerita, Nafis pun mulai dijadwalkan untuk menjalani kemoterapi.
Baca Juga : Anak Bakal Wajib Vaksin Penangkal Kanker Serviks.
”Tapi tidak langsung saat itu juga. Nafis harus melakukan transfusi darah sampai hemoglobin dan trombositnya stabil,” ujarnya.
Dan, itu membutuhkan waktu dua pekan. Jadi, Eka mengatakan total Nafis dirawat selama satu bulan di rumah sakit, sebelum akhirnya bisa melakukan kemoterapi.
Kemoterapi yang dijalani Nafis berjalan intensif selama enam bulan. ”Kemoterapi yang pertama dilakukan selama satu minggu, untuk memasukkan sekitar tujuh obat," katanya.
"Selanjutnya, Nafis diperbolehkan pulang selama satu minggu. Kemudian minggu berikutnya akan menjalani kemoterapi selama satu minggu lagi. Begitu seterusnya sampai enam bulan,” papar Eka.
Saat kemoterapi, kondisi Nafis harus stabil. Hemoglobin dan trombositnya harus berada pada jumlah yang sesuai standar.
Jika tidak, Nafis harus melakukan transfusi darah untuk menaikkan keduanya. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
”Kalau kondisinya tidak bagus ya bisa lebih dari seminggu di rumah sakit, karena terpotong untuk proses menstabilkan kondisi,” imbuhnya.
Eka mengatakan bila putranya itu cenderung anak yang penurut. Sebab, selama ini dia tidak kesulitan saat meminta anaknya melakukan apa pun.
Seperti saat harus disuntik infus untuk memasukkan cairan kemoterapi ke dalam tubuhnya. Eka menjelaskan kemoterapi yang dijalani oleh Nafis ada dua cara.
Yakni melalui infus dan disuntikkan langsung ke bagian sum-sum tulang belakang. ”Itu kan sangat sakit ya. Apalagi harus mlungker dan sedikit dipaksa agar obat yang disuntikkan tepat,” ucapnya.
Proses itu sering dijalani Nafis dengan sendirinya. Tidak perlu paksaan. Setiap kali kemoterapi, anaknya hanya mau ditemani olehnya dan seorang dokter saja.
Eka bersyukur kini kondisi Nafis semakin membaik. Bahkan, pada 2020 lalu, Nafis sudah tidak melakukan kemoterapi lagi.
Baca Juga : 16 Orang Terkonfirmasi Kanker Serviks.
Sebab, jumlah virus yang ada dalam tubuhnya kurang dari satu persen. Meski begitu, Nafis harus melakukan tes laboratorium setiap tiga bulan sekali.
Meski cukup lega, Eka tetap protektif kepada Nafis. Sebab, Nafis tidak boleh terlalu lelah. Anaknya itu juga tak boleh sampai terjatuh.
Untuk itu, dia mengaku benar-benar menitipkan anaknya kepada guru-gurunya di sekolah untuk mengawasi.
Dengan apa yang menimpa putranya itu, kini Eka juga punya perhatian lebih pada anak-anak lain sesama penyintas kanker.
Kini dia juga ikut dalam sebuah komunitas kanker. Bahkan Eka dan suami juga pernah ikut dalam aksi Wani Gundul.
”Kebetulan suami kan tukang potong rambut. Jadi digundulkan sama suami. Dan, suami pun juga ikutan,” ungkapnya. (dre/by) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana