Operasi MOW diikuti oleh 10 pasien, sedangkan operasi bibir sumbing diikuti oleh 3 pasien.
Bakti sosial tersebut dihadiri oleh Wali Kota Malang Drs H Sutiaji, Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang dr Husnul Muarif, dan Sri Umiasih, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan KB, BKKBN Kota Malang, serta Miftachul Farqi Faris, Ketua Forum TSP Kota Malang.
Direktur RS Hermina dr. Gati Kusumo Budiani mengatakan, ada 10 pasien dilakukan penanganan MOW. MOW sendiri merupakan prosedur pengikatan atau memotong saluran tuba falopi.
Sementara itu, minimnya peserta operasi bibir sumbing, menurut dr Gati, karena hingga saat ini masyarakat masih menganggap bahwa bibir sumbing harus disembunyikan.
"Maka kami sulit untuk mendapatkan datanya. Padahal dengan operasi ini bisa terbantu supaya anak-anak atau orang dewasa bisa tersenyum tanpa rasa minder ataupun rasa malu," kata dia.
Operasi bibir sumbing tersebut akan dilakukan secara berkelanjutan oleh RS Hermina.
Caranya, pasien langsung datang ke RS Hermina di bagian pendaftaran. Operasi itu tidak dipungut biaya.
Harapannya dengan operasi gratis ini bisa memberikan manfaat kepada masyarakat Kota Malang, khususnya dalam rangka tanggung jawab sosial (TSP) RS Hermina.
Terkait sulitnya mengakses data penderita bibir sumbing, Wali Kota Malang Drs H Sutiaji mengimbau agar masyarakat tak usah malu dengan kondisi itu.
Sebab bersama dengan RS Hermina pasien dengan bibir sumbing akan teratasi melalui operasi bibir sumbing.
"Kita kan tidak tau datanya, kami juga tidak pernah ada laporan. Makanya dokter Gati menyampaikan kalau menemukan masyarakat dengan kondisi itu terus dia mau ikut untuk operasi, ya ke RS Hermina,"ucapnya.
dr Hermawan Wibisono, SpOG K(FER) PhD, salah satu dokter kandungan konsultan fertilitas menambahkan bahwa ada dua prosedur MOW.
Pertama yaitu Laparoskopi. Menurutnya prosedur ini proses penyembuhannya cepat. Sebab hanya dilakukan tindakan berupa sayatan kecil di dekat pusar.
Sementara itu satu cara lainnya adalah minilaparotomi. Secara teknis sama dengan laparoskopi. Yakni dilakukan dengan membuat sayatan kecil di bawah pusar. Bedanya, minilaparotomi sebagai prosedur yang dianjurkan bagi perempuan dengan kelebihan berat badan (obesitas).
"Jadi beberapa kasus setelah operasi miom ada bekasnya. Kalau menggunakan minilaparotomi sulit dilakukan tindakan. Maka harus pakai prosedur laparoskopi," kata dia. (rof/nen) Editor : Neny Fitrin