Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pasien Berobat ke LN Melonjak setelah Pandemi, Terdata dari Izin Paspor di Imigrasi Malang

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Senin, 13 November 2023 | 21:00 WIB
Izin pengurusan paspor untuk berobat ke luar negeri melonjak di Imigrasi Malang
Izin pengurusan paspor untuk berobat ke luar negeri melonjak di Imigrasi Malang
Terbanyak ke Malaysia, Singapura, dan China

MALANG RAYA – Belanja kesehatan ke luar negeri langsung meningkat setelah pandemi Covid-19 dinyatakan selesai. Berdasar data Kantor Imigrasi Kelas I TPI Malang, terdapat 920 permohonan paspor untuk berobat ke luar negeri sejak 2021 hingga Oktober 2023.

Bisa jadi, di antara para pemohon itu tidak mengetahui kalau masalah kesehatan mereka sudah bisa ditangani di dalam negeri. Khususnya Kota Malang. Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Malang Galih Priya Kartika Perdhana menjelaskan, pada 2020 memang tidak ada permohonan paspor untuk berobat ke luar negeri.

Sebab saat itu pandemi Covid-19 sedang tinggi. Penerbangan in ternasional ditutup. Kunjungan ke luar negeri juga dibatasi. Kemudian pada 2021, sejumlah negara sudah mulai menerima kunjungan dari luar negeri meski masih terbatas. Misalnya, Singapura, Kamboja, Thailand, Maldives, Qatar, Sri Lanka, serta Dubai.

Permohonan paspor untuk berobat melalui Imigrasi Malang pun mulai berdatangan. ”Tahun 2021 kami menerima 84 permohonan,” ujarnya. Permohonan makin melonjak drastis pada 2022. Jumlahnya mencapai 596. Saat itu Malaysia bahkan sudah membuka kunjungan untuk warga Indonesia melalui perbatasan dengan Kalimantan Barat. Tepatnya di perbatasan Tebedu dengan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong.

”Mungkin karena saat itu beberapa negara banyak yang membuka pintu, masyarakat berbondong-bondong pergi untuk belanja kesehatan,” ucapnya. Begitu juga pada tahun ini. Sejak Januari sampai Oktober 2023, permohonan paspor untuk berobat mencapai 240. Terbanyak pada bulan Agustus dengan total 41 permohonan.

Negara paling sering menjadi tujuan berobat adalah Malaysia, Singapura, dan China. Galih menambahkan, data permohonan paspor berobat itu berasal dari delapan wilayah kerja Kantor Imigrasi Kelas I TPI Malang. Meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, Kota Probolinggo, Kabupaten Probolinggo, serta Kabupaten Lumajang.

Setiap hari, pihaknya menyediakan 130 kuota di kantor imigrasi. Namun itu belum termasuk di Unit Kerja Kantor (UKK) Kabupaten Probolinggo dan Unit Layanan Paspor (ULP) di Lippo Plaza masing-masing daerah sebanyak 30 kuota per hari. Ada juga kuota di Mal Pelayanan Publik (MPP) sebanyak 20 kuota setiap hari Selasa dan Kamis.

”Kalau ditotal per bulan, permohonan paspor bisa sampai 2.000. Tapi yang untuk kebutuhan berobat hanya sebagian kecil saja. Terbanyak tetap kebutuhan wisata, haji, dan umrah,” ungkapnya.

Ditanya mengenai jumlah Warga Negara Asing (WNA) yang kemungkinan berobat ke dalam negeri, pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Lalu Lintas Keimigrasian itu menyebut belum ada. ”Sebab, untuk berkunjung ke dalam negeri, orang asing harus memiliki visa yang diurus melalui Direktorat Jenderal Imigrasi atau perwakilan RI di luar negeri,” terang dia.

Hingga kini juga belum ada WNA yang mengajukan perpan jangan izin tinggal karena berobat. Kebanyakan justru pelajar asing yang sedang berkuliah atau belajar di pondok pesantren di Malang. Maraknya warga Indonesia yang berobat ke luar negeri juga tecermin dari survei Kementerian Kesehatan.

Mengutip data Rencana Aksi Kegiatan Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2020-2024, setiap tahun terdapat 600 ribu sampai satu juta penduduk yang berobat ke luar negeri. Total biaya yang keluar untuk layanan itu mencapai USD 11,5 miliar atau 178,2 triliun (kurs Rp 15.500). Masih pada penelitian yang sama, ada tiga negara yang menjadi tujuan utama bagi masyarakat untuk berobat. Yakni Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Penelitian itu juga menyebut bahwa 70 persen transaksi wisatawan medis di Malaysia berasal dari Indonesia. Sementara sekitar 300 ribu WNI berobat di Singapura setiap tahun untuk penyakit komplikasi. Tidak hanya itu, Thailand juga menjadi salah satu negara dengan biaya pengobatan yang bersaing dengan Malaysia.

Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) mencatat, ada berbagai penyebab yang membuat layanan kesehatan di Indonesia masih dipandang sebelah mata. Mulai dari komunikasi sumber daya manusia di fasilitas kesehatan yang dianggap kurang baik, du rasi konsultasi dengan dokter yang pendek, sarana prasarana yang kurang canggih, dan diagnosis yang kurang akurat.

Sebaliknya, sebagian masyarakat melihat layanan kesehatan di luar negeri lebih canggih dan lengkap serta dilengkapi dengan penawaran paket wisata yang menarik. Menanggapi maraknya masyarakat yang berobat ke luar negeri, Wakil Direktur Pelayanan Medik Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) dr Syaifullah Asmiragani SpOT(K) menyatakan bahwa pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan masyarakat sebenarnya sudah tersedia.

Sejumlah rumah sakit di Jawa Timur, termasuk di Malang Raya, pernah mengerjakan kasus-kasus kesehatan. Antara lain kasus kesehatan yang berkaitan dengan ortopedi, jantung, ginjal, serta penyakit-penyakit lainnya.

”Untuk ortopedi seperti kasus tulang belakang, saat ini rumah sakit sudah memiliki endoskopi atau alat yang bisa dimasukkan ke dalam tubuh. Melalui alat ini, waktu penanganan maupun pemulihan bisa dilakukan lebih cepat dan minim komplikasi,” sebutnya.

Demikian pula alat lain yang sudah bertaraf global. Untuk penyakit lain seperti jal, lanjut Syaifullah, rumah sakit di Jawa Timur juga sudah mengerjakan penanganan seperti transplantasi ginjal. Sedikitnya, ada sekitar 10 rumah sakit di Indonesia yang bisa melakukan transplantasi ginjal, termasuk RSSA.

Dalam waktu dekat RSSA juga akan melakukan transplantasi ginjal ke-26. ”Demikian pula untuk kasus kesehatan lain seperti jantung. Sudah ada pelayanan intervensi jantung seperti aritmia atau gangguan irama jantung dan kateterisasi jantung pada anak,” pungkas dia. (mel/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Berobat #imigrasi malang