Lima RS Swasta Bergabung, Ada yang Bangun Penginapan
MALANG RAYA – Maraknya pasien yang berobat ke luar negeri sebenarnya sudah direspons pemerintah. Misalnya dengan mengekspos keunggulan rumah sakit di dalam negeri yang setara dengan mancanegara. Menginformasikan pembiayaan yang jauh lebih murah. Mengembangkan wisata kesehatan (health tourism). Juga menambah fasilitas di rumah sakit.
Mayoritas pasien yang berobat ke luar negeri memang sudah tidak memiliki masalah dengan pendanaan. Sebagian merasa tertarik dari layanan yang disuguhkan. Termasuk keyakinan bahwa teknologi kedokteran di mancanegara sudah lebih maju.
Ketua Pusat Penelitian dan Pengabmas Poltekkes Kemenkes Malang Sri Winarni SPd MKes menjelaskan, sebenarnya standar operasional prosedur yang dilakukan di rumah sakit dalam negeri dengan luar negeri sama saja. Misalnya pelayanan kesehatan di Malaysia. Pada tahun 2017, Poltekkes Malang pernah melakukan kunjungan ke Norma Medical Specialist Center di Kuching, Sarawak. Di sana dia menjumpai beberapa pasien dari Jawa Jakarta dan Surabaya.
”Yang membuat pasien itu terkesan adalah kualitas layanan. Pasien yang pernah kami wawancarai merasa tenaga kesehatan di rumah sakit itu memberikan pelayanan dengan lebih telaten,” terangnya.
Misalnya, sejak pertama masuk rumah sakit, pasien sudah mendapat sosialisasi. Meliputi arahan yang harus dilakukan pasien untuk masuk ke ruangan yang ditentukan hingga selesai penanganan. Untuk satu kali sesi konsultasi, satu pasien juga mendapat durasi sekitar satu jam. ”Kalau di Indonesia, meskipun dalam pembelajaran sudah berkali-kali kami tekankan, tapi jumlah pasien dengan pelayanan yang diberikan tidak seimbang,” ungkap dia.
Staf Pengajar Program Studi Magister Manajemen Rumah Sakit (MMRS) Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Dr dr Viera Wardhani MKes juga pernah berkomunikasi dengan pasien Indonesia saat berkunjung ke China. Pasien yang mengidap kanker itu mengaku tidak sabar karena harus menunggu penanganan antara 6-9 bulan di Indonesia. Akhirnya dia memilih berobat ke China.
”Pasien tersebut juga mengatakan bahwa biaya pengobatan, perjalanan, dan biaya tinggal untuk berobat ke China masih sebanding atau bahkan bisa lebih murah dengan di dalam negeri,” kata Viera.
Beberapa rumah sakit di luar negeri yang banyak dikunjungi, seperti di Malaysia, Singapura, dan Thailand juga menawarkan teknis pengobatan yang tidak dimiliki di Indonesia. Strategi marketing mereka juga sangat kuat. Antara lain menonjolkan penghargaan yang pernah diraih, keberhasilan dokter spesialis, membuka cabang pelayanan pasien di Indonesia, antar jemput bagi keluarga, layanan visa, hingga bahasa, bahkan ada yang menyediakan bangsal khusus Indonesia.
Rumah sakit yang mengusung medical tourism juga menawarkan desain, lokasi, dan layanan wisata sebagai pelengkap keunggulan. Kelebihan lain yang ditawarkan adalah layanan pasca-hospital. ”Setelah operasi kanker, keluarga pasien diajari cara merawat luka. Saat rawat jalan juga didampingi untuk memastikan keluarga bisa merawat, baru boleh pulang ke Indonesia,” jelasnya.
Pengalaman mendapat rekomendasi berobat ke luar negeri pernah dialami Ardian Eka Wahyudi. Dia pernah disarankan berobat ke Penang untuk operasi ganti katup jantung dan bypass. Prosedur operasi yang dilakukan secara open thorax. ”Itu atas rekomendasi teman saya. Apalagi saya kerja di Bank Malaysia,” terang dia.
Selain rekomendasi untuk berobat ke Penang, dia juga pernah disarankan pergi ke Singapura karena sang adik adalah penduduk permanen (permanent residence) di sana. ”Namun, saya tidak sampai survei harga pengobatan dan akomodasi di luar negeri. Saya akhirnya memilih melakukan operasi di Malang agar dekat dengan keluarga. Biayanya pun masih masuk akal,” sebut pria asal Jakarta itu.
Ardian mengatakan, untuk melakukan operasi di sebuah rumah sakit kelas B di Kota Malang, dia harus merogoh kocek sebesar Rp 340 juta. Berbeda dengan rumah sakit kelas A di Jakarta yang biayanya mencapai Rp 500 juta. ”Tindakan operasi yang dilakukan di Kota Malang pun hanya sampai dua tahapan, sementara di Jakarta perlu empat tahapan,” imbuhnya.
Asosiasi Wisata Kesehatan
Untuk menekan jumlah masyarakat berobat ke luar negeri sekaligus menarik wisatawan agar berobat ke dalam negeri, pemerintah terus melakukan berbagai upaya. Belum lama ini, pemerintah meresmikan asosiasi wisata kesehatan di empat daerah. Salah satunya ada di Malang.
Di Malang ada lima rumah sakit swasta kelas B yang tergabung dalam asosiasi sejak April lalu dan terverifikasi Kementerian Kesehatan. Yakni Rumah Sakit Wava Husada, Persada Hospital, Rumah Sakit Lavalette, Rumah Sakit Panti Nirmala, dan RKZ Panti Waluya Sawahan.
”Seluruhnya memiliki keunggulan seperti layanan jantung, stroke, dan kanker. Termasuk memiliki dokter hingga sub spesialis yang lengkap dengan kemampuan yang operatif,” jelas Ketua Asosiasi Malang Health Tourism (MHT) Ardantya Syahreza.
Melalui asosiasi MHT, pihaknya membantu rumah sakit dari segi pengelolaan, menyusun paket, hingga melayani tamu ke rumah sakit. Harga yang ditawarkan pun bermacam-macam karena yang disediakan tidak hanya tindakan, tapi juga medical check-up.
Misalnya, untuk hal-hal yang berkaitan dengan wellness seperti spa, facial whitening, breast message, hingga body message dipatok mulai Rp 100 ribu sampai Rp 140 ribu. Sementara yang bersifat tindakan seperti operasi implan, training stroke, hingga operasi lainnya mulai sekitar Rp 2 juta. ”Intinya, kami ingin menggabungkan antara tindakan medis dan wellness seperti healing,” tuturnya.
Selain di Malang, asosiasi serupa juga dibentuk di Bali, Medan, dan Sulawesi Utara. Semua daerah itu dipilih lantaran memiliki potensi pariwisata dan medis. ”Nanti bisa saja saat healing didampingi dokter,” imbuhnya.
Hingga kini, rumah sakit yang tergabung dengan asosiasi baru rumah sakit swasta kelas B. Hal itu sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 76 Tahun2015 tentang Pelayanan Wisata Medis. Namun Ardantya tidak menutup peluang bagi rumah sakit pemerintah untuk bergabung. Hanya saja, menurut dia, perlu ada layanan khusus karena dalam wisata medis salah satunya dokter dituntut on time.
Selain membentuk asosiasi, beberapa rumah sakit mulai mengembangkan fasilitas untuk pelayanan wisata medis. Salah satunya adalah Rumah Sakit Wava Husada. Dari informasi yang didengar Ardantya, RS Wava Husada berencana menambah satu hektare lagi untuk kebutuhan penginapan yang rencananya digunakan sebagai lokasi rehabilitasi. ”Kalau empat rumah sakit lain perlu kerja sama dengan penyedia akomodasi seperti hotel,” tandas pria yang juga Direktur Pengembangan PT Persada Medika Raya itu. (mel/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana