Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bahaya, DBD Sudah Serang 101 Bocah di Kabupaten Malang, Begini Cara dari Dinkes Lawan Aedes Aegypti

Ahmad Yani • Jumat, 8 Maret 2024 | 18:01 WIB

 

PEMBERANTASAN: Petugas melakukan fogging di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Langkah itu kerap dilakukan, namun sebenarnya kurang efektif karena hanya membunuh nyamuk dewasa. (DOKUMEN DINKES KABUPATEN MALANG)
PEMBERANTASAN: Petugas melakukan fogging di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Langkah itu kerap dilakukan, namun sebenarnya kurang efektif karena hanya membunuh nyamuk dewasa. (DOKUMEN DINKES KABUPATEN MALANG)

KEPANJEN – Di Kabupaten Malang, antara bulan Januari hingga Februari lalu sedikitnya 101 anak dilaporkan terkena DBD.

Ini membuktikan ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak hanya menyerang orang dewasa.

Anak-anak pun memiliki risiko tinggi untuk terserang penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegypti tersebut.

Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, kasus DBD secara keseluruhan menunjukkan tren meningkat.

Sejak awal tahun hingga akhir Februari tercatat 324 orang yang terserang DBD.

”Dari Januari sampai Februari, DBD pada anak mencapai 101 kasus,” ujar Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang Chairiyah.

Dari jumlah tersebut, serangan DBD pada bocah terhitung menurun jika dibandingkan periode yang sama tahun 2023 yang mencapai 113 kasus.

Dari kasus tersebut, baik 2023 maupun 2024 mulai Januari sampai Februari, tidak ditemukan laporan kematian penderita DBD pada anak.

Tercatat dari total 324 orang yang terserang DBD, ada satu orang dewasa di Kecamatan Kasembon yang dilaporkan meninggal dunia.

Sedangkan sepanjang 2023, dari 1.009 orang yang terserang DBD, ditemukan sembilan orang yang meninggal karena DBD.

Di antaranya terdapat di Kecamatan Bululawang, Donomulyo, Kalipare, Kromengan, dan Ngajum.

Menurut Chairiyah, anak-anak yang terpapar DBD lebih rentan mengalami kebocoran plasma yang berisiko pada kematian.

Terutama saat memasuki fase kritis. Untuk diketahui, baik anak-anak maupun dewasa memiliki tiga fase DBD yang sama.

Pertama fase demam yang ditandai dengan suhu tubuh yang mendadak tinggi hingga 39 derajat Celcius.

Ketika fase ini, pasien juga dapat mengeluhkan gejala lain seperti nyeri otot, sakit kepala, mual dan muntah, serta rasa sakit di belakang mata. Kedua yakni fase kritis yang ditandai dengan demam menurun.

Kondisi ini akan sangat berbahaya jika tidak ditangani dengan baik.

“Apabila sudah sampai terjadi pendarahan di hidung atau gusi, artinya DBD sudah memasuki fase kritis. Bila tanda tersebut muncul harap segera melakukan pemeriksaan ke dokter,” ujar Chairiyah.

Terakhir, yakni fase penyembuhan yang terjadi setelah pasien melewati fase kritis.

Biasanya, pasien dapat kembali mengalami demam setelah pada siklus kritis tidak ditemui demam.

Namun, kondisi pasien akan perlahan membaik.

(yun/nay)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#DBD #aedes aegypti #Kabupaten Malang #dinkes