Kasus Baru Juga Muncul di Kabupaten Malang dan Kota Batu
MALAG RAYA – Hari ini (10/5), masyarakat di seluruh dunia memperingati World Lupus Day.
Peringatan itu menjadi momen penting untuk meningkatkan kesadaran global tentang penyakit autoimun kronis yang kerap terlupakan.
Apalagi jumlah pasien lupus selalu bertambah dari tahun ke tahun.
Lupus memang bukan penyakit langka, tapi cukup jarang.
Berdasar data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, prevalensi lupus di Indonesia diperkirakan 0,5 persen dari jumlah penduduk.
Artinya, tahun ini jumlahnya sekitar 1,3 juta orang.
Di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA), rata-rata peningkatan jumlah pasien lupus mencapai 100 orang per tahun.
Sementara di Kota Batu dan Kabupaten Malang, peningkatan jumlah pasien rata-rata sekitar 10 sampai 22 pasien.
Yang juga perlu mendapat perhatian, lupus bisa menyerang anak-anak.
Di Kota Malang, sejak 2023 hingga tahun ini terdapat 150 anak pengidap lupus yang rutin menjalani perawatan.
Hal yang sama ditemukan di Kabupaten Malang (lihat grafis).
Spesialis penyakit dalam RSSA Dr dr Cesarius Singgih Wahono SpPD-KR menjelaskan, pasien yang datang mengidap jenis lupus beragam.
Seperti lupus sendi, lupus kulit, lupus ginjal, lupus saraf, hingga lupus yang mengenai darah.
Gejala yang muncul pada setiap pasien kadang juga berbeda-beda.
Ada yang rambutnya rontok, muncul ruam pada kulit, kondisi tubuh yang bengkak, serta sariawan.
”Karena itu lupus di sebut penyakit 1.000 wajah,” ungkap Singgih.
Dia menambahkan, penyakit lupus lebih banyak diderita oleh perempuan.
Terutama perempuan usia subur yang berusia 20 tahun sampai 30 tahun.
Meski demikian ada juga laki-laki yang mengidap lupus.
Di Malang, perbandingan pasien lupus perempuan dengan laki-laki sekitar 15:1.
Singgih menyebut penyebab lupus multifactorial atau banyak faktor.
Ada yang karena genetik, infeksi tertentu, polusi, dan sinar UV.
”Satu lagi faktor lagi yang sangat penting adalah estrogen,” imbuh lelaki yang juga anggota Perhimpunan Reumatologi Indonesia itu.
Tak hanya usia dewasa, lupus juga ditemukan pada anak-anak.
Hal itu diungkapkan Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya Prof Dr dr Wisnu Barlianto MSi Med SpA(K).
Menurutnya, sejak 2023 sampai 2025 terdapat 150 anak pengidap lupus yang ditangani di RSSA.
Gejalanya sering kali lebih berat dibanding orang dewasa.
”Misalnya demam, nyeri sendi, hingga ruam pada wajah. Ruamnya menyerupai kupu kupu. Kadang juga pucat dan mudah lelah,” ucapnya.
Kendati demikian, sampai sekarang penyebab lupus pada anak-anak belum diketahui secara pasti.
Ada kemungkinan penyebab lupus adalah kombinasi antara faktor genetik, hormonal, dan lingkungan.
Pencegahan Sekunder
Pasien lupus juga ditemukan di Kabupaten Malang.
Tahun ini jumlahnya 10 orang.
Terdiri dari 8 pasien dewasa dan 2 pasien anak.
Tiga pasien dewasa ditangani di RSUD Kanjuruhan, sementara 5 pasien dewasa dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar Tahun lalu ditemukan 10 penderita lupus.
Terdiri dari 5 pasien dewasa dan 5 pasien anak.
Tiga pasien dewasa ditangani di RSUD Kanjuruhan, sementara 2 pasien dewasa dirujuk ke RSSA Kota Malang.
Spesialis Anak RSUD Kanjuruhan dr Nanda Juwita SpA menjelaskan, lupus merupakan penyakit auto imun kronis yang dapat menyerang berbagai organ tubuh.
Meski lebih umum terjadi pada wanita dewasa, lupus juga dapat muncul pada anak-anak.
“Lupus pada anak dapat menyerang kulit, sendi, ginjal, otak, hingga jantung,” ujarnya kemarin (9/5).
Dia mengingatkan lima gejala khas yang perlu di waspadai sebagai lupus.
Antara lain, demam berkepanjangan tanpa penyebab yang jelas, nyeri dan bengkak pada sendi, ruam berbentuk kupu-kupu di wajah, gangguan ginjal seperti urin berbusa dan darah dalam urin, kejang, gangguan perilaku, atau sakit kepala kronis.
“Anak perempuan lebih sering terkena dibandingkan laki-laki, khususnya di usia praremaja hingga remaja,” imbuh Nanda.
Lupus bisa disebabkan kombinasi berbagai kondisi.
Seperti faktor genetik, riwayat penyakit autoimun dalam keluarga, faktor lingkungan seperti paparan sinar ultraviolet, infeksi virus, dan stres.
Hormon estrogren juga menjadi salah satu faktor yang berperan dalam meningkatkan risiko lupus.
Terakhir adalah sistem imun yang menyerang jaringan tubuh.
”Sampai saat ini, belum ada metode pencegahan yang pasti untuk lupus, karena sifatnya yang kompleks dan tidak menular,” kata dia.
Namun, dia menyebut ada beberapa langkah pencegahan sekunder yang bisa dilakukan.
Di antaranya menghindari paparan sinar matahari berlebihan, mengelola stres dan menjaga pola hidup sehat, serta konseling genetik sebelum pernikahan bagi keluarga dengan riwayat lupus.
Hal ter sebut untuk memahami ri siko, meskipun tidak meng eliminasi kemungkinan terjadinya lupus.
Bangun Kepedulian
Di Kota Batu, data RSUD Karsa Husada menunjukkan pada 2023 terdapat 12 pasien lupus.
Kemudian meningkat menjadi 22 pasien pada 2024.
Sementara per April tahun ini terdapat 4 pasien baru.
Spesialis Penyakit Dalam RSUD Karsa Husada Kota Batu dr Iwal Reza Ahdi SpPD mengungkapkan, mayoritas penyakit lupus menyerang perempuan.
Itu karena perempuan memproduksi hormon estrogen pada usia produktif antara 15-59 tahun.
Hormon tersebut dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Namun, pada beberapa orang justru dapat menyebabkan sistem imun menyerang sel-sel tubuh sendiri.
Dia menilai peningkatan kasus lupus juga disebabkan banyaknya masyarakat yang kurang aware.
Misalnya, muncul gejala yang mengarah ke lupus, tapi penderita cenderung tidak menyadari hal itu.
“Gejalanya memang menyerupai penyakit lain. Misalnya saja bercak merah. Itu bisa dianggap alergi atau gangguan ginjal. Juga bisa dialami pasien diabetes,” ujarnya.
Karena itu, perlu ada deteksi untuk mengecek apakah pasien memang terjangkit lupus.
Yang utama pemeriksaan darah melalui anti nuclear antibody (ANA) dan tes anti-DNA.
Dari tes itu dapat dideteksi reaksi auto imun dan memantau aktivitas penyakit lupus.
”Setelah dinyatakan positif, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana penanganan pasien itu sendiri,” imbuhnya.
Kabid Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu dr Susana Indahwati menambahkan, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risiko terkena lupus.
Salah satunya pencegahan secara primer.
“Misal nya, meminimalkan paparan faktor lingkungan yang diketahui atau diduga dapat memicu lupus. Terutama pada individu dengan riwayat keluarga penyakit autoimun,” paparnya.
Menurut Susan, faktor pemicu penyakit lupus tidak bisa dideteksi penyebab pastinya.
Tapi, jika ada orangtua atau saudara yang menderita lupus, potensi terjangkitnya lebih besar.
”Penyakit lupus bisa muncul karena mutasi genetik. Maka upaya pencegahannya juga perlu memeriksakan diri secara dini apabila muncul gejala yang mengarah ke lupus,” tandas nya. (mel/yun/ori/fat)
Editor : Aditya Novrian