MALANG RAYA - Dalam beberapa tahun terakhir, pengobatan lupus mengalami kemajuan signifikan. Perempuan pengidap lupus juga bisa hamil dan memiliki anak asalkan melakukan kontrol secara rutin.
Begitu juga dengan pengidap lupus pada anak, harapan hidup mereka bisa mencapai 80 persen sampai 90 persen jika rutin berobat. Termasuk berpeluang memiliki tumbuh kembang yang baik.
Spesialis Penyakit Dalam RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Dr dr Cesarius Singgih Wahono menjelaskan, selama 2023 lalu RSSA menerima 3.670 kunjungan dari pasien lupus. Kondisi itu meningkat pada 2024 menjadi 4.447 kunjungan. Artinya, setiap bulan ada 300 kunjungan sampai 370 kunjungan.
”Mayoritas pasien yang berobat sudah mengalami gejala sedang hingga berat,” sebutnya.
Baca Juga: Rumah Sakit Saiful Anwar Catat Peningkatan 100 Pasien Lupus Per Tahun
Jenis lupus yang diidap beragam. Namun kebanyakan SLE atau lupus yang mengenai persendian. Ada juga lupus kulit, lupus saraf, lupus darah, dan lupus ginjal. Karena gejala lupus yang diidap setiap pasien berbedabeda, maka penanganan yang dilakukan tidak sama.
Tapi, secara umum pasien lupus dengan kondisi ringan biasanya akan mendapat pengobatan berupa obat antiradang atau anti nyeri seperti Hydroxychloroquine.
Jika gejala yang dialami pasien agak berat, maka dokter akan memberikan obat golongan steroid. Sedangkan pasien yang dalam kondisi berat diberi obat injeksi dan harus menjalani opname.
Seluruh obat-obatan itu sudah ter-cover BPJS Kesehatan. Kecuali pengobatan melalui agen biologi, yakni pengobatan yang diberikan dengan cara injeksi untuk melawan autoimun. Pasien dalam kondisi berat biasanya diminta kontrol dua minggu sekali.
Baca Juga: RSUD Soewandhie di Surabaya Subsidi Silang Pasien BPJS Kesehatan
Jika membaik, jarak kontrol bisa diperpanjang sebulan sekali, tiga bulan sekali, atau bahkan empat bulan sekali. Dan jika dinyatakan remisi bisa setahun hanya dua kali.
”Saat kontrol, pasien akan ditanya kondisinya bagaimana, keluhannya apa, serta memeriksa gejala yang muncul pada tubuh pasien,” terang Singgih.
Singgih menambahkan, harapan hidup untuk pasien lupus saat ini sudah hampir 100 persen. Tapi dengan catatan harus dikontrol. Caranya dengan menjalani pengobatan rutin. Kemudian pasien tidak boleh kelelahan berlebih, menjaga pola hidup, dan mendapat dukungan keluarga.
Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya Prof Dr dr Wisnu Barlianto MSi Med SpA(K) menambahkan, pengobatan lupus pada anak juga harus dilakukan rutin.
Tujuannya untuk mengurangi aktivitas penyakit lupus. Biaya pengobatan bervariasi. Bergantung tingkat keparahan dan jenis terapi.
”Namun sebagian besar biaya pengobatan lupus, termasuk rawat inap dan beberapa jenis obat, sudah ditanggung BPJS Kesehatan,” tegasnya.
Ragam Terapi Sementara itu, Spesialis Anak RSUD Kanjuruhan dr Nanda Juwita SpA menjelaskan, terdapat dua jenis terapi untuk penanganan lupus. Yakni terapi konvensional dan biologis.
“Terapi konvensional itu seperti kortikosteroid serta penggunaan obat imunosupresan seperti azathioprine atau cyclophosphamide,” ujarnya.
Baca Juga: Viral Dituduh Cabuli Pasien, Dokter AY Justru Serang Balik Lewat Jalur Hukum
Terapi kortikosteroid adalah pengobatan untuk mengendalikan peradangan dan menekan aktivitas sistem imun yang berlebihan. Terapi tersebut bisa mengurangi gejala seperti nyeri sendi, ruam, dan kelelahan.
Juga bisa mengendalikan flare atau kambuhnya gejala serta mencegah kerusakan organ, seperti ginjal, otak, dan jantung.
Obat imunosupresan juga menjadi bagian penting dari pengobatan lupus. Utamanya untuk mencegah kerusakan organ dan mengontrol sistem imun yang terlalu aktif. Misalnya obat azathioprine yang dapat menghambat pembentukan DNA sel imun, sehingga menurunkan aktivitas sistem kekebalan.
Atau cyclophosphamide (endoxan) yang dapat bekerja sebagai obat kemoterapi yang sangat kuat untuk menghancurkan sel kanker di paru-paru.
Baca Juga: RSUD dr Mohamad Soewandhie Tiga Bulan Tangani 8.414 Pasien Diabetes Melitus
”Kalau terapi biologis itu menggunakan belimumab. Fungsinya menghambat aktivitas sel B yang berperan dalam respons autoimun. Juga menggunakan anifrolumab yang menargetkan reseptor interferon tipe I,” kata Nanda.
Belimumab adalah obat biologis pertama yang disetujui secara khusus untuk pengobatan lupus eritematosus sistemik (SLE) dan lupus nefritis.
Obat tersebut sebagai terapi tambahan untuk pasien yang tidak cukup membaik dengan kortikosteroid dan imunosupresan konvensional seperti azathioprine.
Sedangkan anifrolumab merupakan obat biologis terbaru yang digunakan untuk mengobati lupus eritematosus sistemik (SLE) kategori sedang hingga berat. Utamanya terhadap pasien yang tidak merespons baik terhadap terapi konvensional.
Obat tersebut merupakan antibodi monoklonal yang menargetkan reseptor interferon tipe I (IFNAR1).
Yakni protein imun yang berperan besar dalam peradangan dan autoimunitas pada lupus. Dengan memblokir reseptor itu, anifrolumab mengurangi sinyal peradangan, sehingga menekan gejala lupus.
“Pengobatan ini disetujui pada 2021,” ucapnya.
Dia juga menjelaskan, pendekatan pengobatan lupus saat ini mulai dipersonalisasi berdasarkan profil sistem kekebalan tubuh (imunologi) masing-masing pasien.
Tujuannya untuk meminimalisir efek samping dan memperpanjang remisi lupus. Nonfarmakologis Sementara itu, spesialis Penyakit Dalam RSUD Karsa Husada dr Iwal Reza Ahdi SpPD mengingatkan bahwa lupus tidak bisa sembuh secara permanen. Penyakit itu bisa kambuh apabila ada faktor pemicu munculnya gejala.
Baca Juga: Mantan Pasien Dokter Cabul Segera Dipanggil Pihak RS
“Penanganan lupus wajib dilakukan secara holistik, termasuk melalui nonfarmakologis atau tanpa obat-obatan,” terangnya.
Menurutnya, penyakit lupus rentan dengan paparan sinar ultraviolet (UV). Maka, upaya pencegahan perlu dilakukan dengan menutup bagian tubuh dengan menggunakan baju panjang, topi, hingga menggunakan tabir surya atau sunscreen.
“Kemudian juga perlu menghindari faktor penyebab stres,” sambungnya.
Kondisi tubuh yang stres akan membuat kinerja imun kurang baik dan memicu lupus kembali kambuh. Maka, penting bagi penderita untuk manajemen stres dengan hal positif. Seperti berolahraga, menjalankan hobi hingga bergabung komunitas.
Baca Juga: Wakil Menteri Kesehatan Usut Dokter yang Lecehkan Pasien di Malang
Lebih lanjut, Kabid Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu dr Susana Indahwati membeberkan bahwa harapan hidup bagi penyintas lupus telah meningkat secara signifikan. Itu berkat kemajuan diagnosis dan pengobatan dalam beberapa dekade terakhir.
”Sebelumnya, tingkat kelangsungan hidup 5 tahun setelah diagnosis lupus sangat rendah,” ujarnya.
Sementara saat ini, dengan penanganan yang tepat, harapan hidup penderita mendekati atau bahkan sama dengan populasi umum. Pengobatan pasien lupus juga dapat di-cover oleh BPJS Kesehatan.
Penanganannya mencakup berbagai layanan dan kebutuhan medis yang terkait dengan diagnosis, pengobatan, dan pemantauan lupus. Termasuk penanganan terhadap komplikasi, seperti tindakan gagal ginjal.
“Dengan catatan ada rujukan dari rumah sakit untuk dilakukan tindakan. Kalau mandiri tidak bisa," ujarnya. (mel/yun/ori/fat)
Editor : Aditya Novrian