RADAR MALANG – Kabar menggembirakan datang dari dunia medis.
Ilmuwan di China berhasil mencatat sejarah dengan menyembuhkan pasien diabetes menggunakan terapi sel punca.
Ini jadi terobosan besar, terutama bagi para penderita diabetes tipe 1 maupun tipe 2 yang selama ini bergantung pada suntikan insulin seumur hidup.
Keberhasilan ini pertama kali diumumkan oleh tim ilmuwan dari Shanghai, setelah mereka melakukan transplantasi sel punca pada seorang pria berusia 59 tahun yang sudah menderita diabetes tipe 2 selama lebih dari 25 tahun.
Baca Juga: Kesepakatan Jeda Tarif AS-China Berlangsung Selama 90 Hari, Tarif Impor Turun hingga 115 Persen
Tim medis menggunakan sel darah milik pasien sendiri untuk dibuat menjadi sel punca (stem cell).
Kemudian, sel-sel itu diprogram ulang menjadi sel penghasil insulin, mirip dengan sel beta di pankreas.
Setelah ditanam kembali ke tubuh pasien, hasilnya mengejutkan.
Hanya dalam waktu 11 minggu, pasien tak lagi butuh suntikan insulin.
Baca Juga: Pemprov DKI Jalin Kerja Sama Perfilman dengan Busan dan Hong Kong, Upayakan Dorong Ekosistem Kreatif
Bahkan, setelah setahun, ia benar-benar lepas dari semua obat diabetes.
Tak cuma itu, fungsi pankreas pasien pun pulih.
Lebih dari 33 bulan setelah prosedur, pasien tetap bebas dari insulin.
Terobosan ini bukan cuma berlaku untuk diabetes tipe 2.
Seorang wanita 25 tahun yang menderita diabetes tipe 1 juga menunjukkan hasil serupa.
Kali ini dilakukan oleh tim ilmuwan dari Tianjin.
Mereka menggunakan sel lemak pasien untuk dijadikan sel punca, lalu mengembangkannya menjadi sel islet penghasil insulin dan menanamkannya ke otot perut.
Hasilnya, dalam waktu 75 hari, pasien tersebut juga tak lagi memerlukan suntikan insulin dan masih bebas insulin lebih dari satu tahun kemudian.
Meski begitu, para ilmuwan mengingatkan bahwa terapi ini belum tersedia secara luas.
Masih perlu uji klinis lanjutan untuk memastikan keamanan jangka panjang dan efektivitas pada lebih banyak pasien.
Namun, kabar ini jelas memberi harapan baru bagi jutaan orang yang hidup dengan diabetes.
Terapi yang dulunya terdengar seperti fiksi ilmiah, kini mulai jadi kenyataan. (rsy)
Editor : Aditya Novrian