MALANG RAYA - Program keluarga berencana (KB) masih jadi andalan pemerintah untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk. Karena itu, edukasi terkait berbagai jenis KB terus digalakkan. Salah satunya yakni KB pria atau lebih familiar dengan istilah vasektomi.
Sayangnya, KB jenis itu masih minim peminat. Seperti diberitakan sebelumnya, dalam dua tahun terakhir hanya ada 19 warga di Malang Raya yang menggunakannya. Terbanyak di Kabupaten Malang dengan 15 warga. Sementara Kota Malang dan Kota Batu masing-masing ada dua warga.
Meski sosialisasi jenis KB itu belum cukup berhasil, Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang drg Muhammad Zamroni memastikan bahwa angka kelahiran selama 10 tahun terakhir cukup terkendali. Berdasar data dari profil kesehatan Dinkes Kota Malang, angka kelahiran sejak tahun 2015 tidak pernah melebihi 12 ribu anak per tahun.
Bahkan pada 2021 lalu, sempat ada penurunan. Jumlah kelahiran saat itu sebanyak 9.968 anak. Pada 2024, dinkes mencatat ada 11.379 anak yang lahir. ”Untuk tahun 2025, sampai 28 Mei 2025 ada 3.340 anak yang lahir,” jelas Zamroni.
Dia memastikan bahwa sosialisasi program KB terus dilakukan. Mereka dibantu lintas sektor seperti sekolah, posyandu, hingga dinas sosial. Salah satu yang disosialisasikan yakni vasektomi.
Di tempat lain, Spesialis Urologi RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) dr Paksi Satyagraha MKes SpU(K) menjelaskan, kontrasepsi memang bisa dilakukan pada perempuan maupun laki-laki. Untuk laki-laki, terbagi menjadi dua yakni kontrasepsi. Yakni kontrasepsi mantap dan kontrasepsi non-mantap.
Paksi menyebut, kontrasepsi mantap adalah metode yang bersifat permanen untuk mencegah kehamilan. Metode itu disebut vasektomi. ”Vasektomi dilakukan dengan cara memutus vas deferens (saluran sperma). Tujuannya agar sperma tidak keluar dalam ejakulat (air mani),” sebut dia.
Untuk diketahui, dalam air mani tidak hanya terkandung sperma saja. Di dalamnya juga ada kandungan lain. Mayoritas yakni air. Lainnya seperti lendir, plasma, dan berbagai nutrisi seperti fruktosa, vitamin, dan asam amino.
Dia menyebut bahwa vasektomi aman karena memiliki efek samping yang minim. Metodenya dilakukan dengan bius lokal, tanpa pisau, serta angka keberhasilannya tinggi. Selain itu, nyeri yang dirasakan pasien juga kecil.
Berhasil atau tidaknya vasektomi, menurut Paksi, dilihat dari adanya sperma dalam ejakulat. Karena itu, pascavasektomi, pasien harus menunggu beberapa minggu. Kemudian, perlu pemeriksaan di laboratorium.
Kendati demikian, masih banyak masyarakat yang belum berminat melakukan vasektomi. Sebab ada rumor kalau vasektomi bisa mengurangi ejakulasi dan berpengaruh pada seksualitas. ”Vasektomi dipastikan tidak mengurangi kepuasan seksual maupun ejakulasi,” tegasnya.
Paksi menambahkan, meski vas deferens sudah dioperasi, itu masih bisa disambung. Penyambungan dilakukan melalui operasi rekanalisasi vas deferens atau penyambungan kembali saluran sperma yang sudah diblokir karena vasektomi.
Operasi rekanalisasi vas deferens biasanya dilakukan laki-laki yang ingin punya anak lagi. Salah satu laki-laki yang pernah melakukan vasektomi adalah Danial Mukti. Lelaki yang juga penyuluh dari BKKBN Kota Malang itu mengatakan bahwa dirinya mengikuti vasektomi pada 2009.
Danial memahami kalau penggunaan kontrasepsi oleh perempuan dalam jangka waktu yang lama akan berdampak pada tubuh. Istri Danial sendiri sudah pernah menjajal beberapa jenis kontrasepsi. ”Yang pertama adalah IUD. Itu dilakukan selama tujuh tahun setelah kelahiran anak pertama tahun 1995 dan dilanjutkan kontrasepsi pil setelah anak kedua lahir,” cerita dia.
Menurut Danial, vasektomi adalah alat kontrasepsi dengan efek samping paling ringan. Sebagai suami, dia harus berperan aktif dalam merencanakan keluarga. Dua poin itu menjadi alasan kuat Danial memutuskan ikut vasektomi.
Danial juga menyatakan kalau para laki-laki tidak perlu khawatir dengan kondisi pasca-operasi. Sebab meskipun memutus distribusi sperma, laki-laki tetap bisa ejakulasi. Namun yang keluar berupa air mani saja. Rumor lain yang beredar, vasektomi bisa membuat laki-laki tidak mengalami ereksi.
Namun, Danial menegaskan kalau vasektomi tidak memengaruhi seksualitas laki-laki. Sebab tindakan operasi hanya dilakukan pada skrotum, yakni kantong kulit di bawah alat kelamin laki-laki. ”Jadi sama sekali tidak memengaruhi vitalitas laki-laki,” ungkapnya.
Selain Danial, ada Bambang (bukan nama sebenarnya) yang juga ikut vasektomi. Lelaki yang kini bekerja di Kecamatan Kepanjen itu melakukan vasektomi pada 2021. Itu dilakukan setelah anak ketiganya lahir.
”Karena saya memiliki misi membantu istri. Sebagai laki-laki, kita tidak boleh menitikberatkan tugas memiliki anak hanya pada wanita,” tegas lelaki berusia 48 tahun tersebut.
Meski banyak keunggulan, beberapa pihak tak setuju dengan KB vasektomi. Seperti dituturkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batu KH Abdulloh Tohir. Dia menyebut bahwa KB yang bersifat permanen sangat bertentangan dengan nilai agama.
Dia mengacu pada Fatwa MUI Nomor 12 tahun 2009 tentang sterilisasi. ”Itu dianggap bertentangan dengan ketentuan agama Islam untuk menjaga keturunan,” kata dia. Kendati begitu, Abdullah menjelaskan jika KB itu tetap dapat dilakukan dengan beberapa catatan tertentu.
Seperti istri yang sudah berusia lanjut dan memiliki risiko tinggi bila hamil. Apabila berada dalam kondisi itu, KB vasektomi bisa dibenarkan secara syariah.
Di tempat lain, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Malang Aniswaty Aziz memastikan bahwa sosialisasi terus dilakukan. Tujuan utamanya yakni membantu pemerintah pusat mengendalikan laju pertumbuhan penduduk.
”Jika pengguna vasektomi memiliki jumlah yang seimbang dengan penggunaan KB wanita, tentunya akan memberikan dampak yang cukup signifikan,” kata dia. Di Kabupaten Malang saja, dari 312.622 Pasangan Usia Subur (PUS) yang aktif mengikuti program KB, tahun ini hanya tercatat 15 orang yang menjalani KB vasektomi. (by)
Editor : A. Nugroho