Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Kesehatan: Keseleo? Jangan-Jangan Asam Urat...!

A. Nugroho • Kamis, 5 Juni 2025 | 14:10 WIB
WASPADA: Jika keseleo, cek jangan-jangan, itu adalah efek dari reaksi akibat tumpukan asam urat dalam darah yang tidak pernah disadari. sebelumnya.
WASPADA: Jika keseleo, cek jangan-jangan, itu adalah efek dari reaksi akibat tumpukan asam urat dalam darah yang tidak pernah disadari. sebelumnya.

MALANG - Anda pernah tiba-tiba merasakan kaki seperti keseleo lalu bengkak dan tidak bisa digerakkan? Padahal, Anda tidak merasa melakukan hal-hal yang berbahaya hingga bisa menyebabkan ‘sang kaki’ terpeluntir?

Jika ya, Anda perlu waspada. Jangan sembrono mengambil kesimpulan bahwa itu benar-benar keseleo kemudian cepat-cepat pergi ke tukang pijat urat saraf untuk memulihkan kondisinya.

Sebab, jangan-jangan, itu adalah efek dari reaksi akibat tumpukan asam urat dalam darah yang tidak pernah disadari sebelumnya. Ya, itu berarti, Anda terkena asam urat! 

Saya hanya ingin berbagi pengalaman tentang hal ini karena juga pernah merasakannya. Tapi, baru saya sadari pada kejadian yang kedua. Dan, itu sudah berselang lebih dari setahun kemudian. Begini ceritanya. Saya tidak ingat persis tanggal dan waktunya. “Peristiwa keseleo pertama” itu terjadi sehabis perjalanan jauh luar kota, sekitar empat jam.

Mengemudikan mobil sendiri. Setelah sampai rumah dan turun mobil, jempol kaki sebelah kiri tiba-tiba terasa sakit. Nyeri. Persis seperti keseleo. Awalnya, tak terlalu terasa. Tapi, seiring bertambahnya menit dan jam, rasanya semakin sakit. Sulit untuk digerakkan. Bahkan, kesakitan kalau dipakai berjalan. 

Karena mengira benar-benar keseleo, saya pikir, nggak bisa dibawa ke dokter (emangnya dokter suruh mijitin jempol kaki saya? ). Saya pun mencoba cara-cara pengobatan tradisional. Bobok param. Bikin sendiri. Dari asam campur garam dan air hangat. Dikompres seharian.

Tapi, nggak sembuh-sembuh juga. Pakai param kocok yang harus beli di toko, sami mawon. Makanya, saya lantas mikir, ini harus dibawa ke dukun pijat. Mungkin, ada urat yang terpeluntir tapi tidak terasa waktu saya nginjak-nginjak pedal gas, kopling, dan rem secara bergantian waktu mengemudi.

Tukang pijit langganan yang bisa nangani keseleo pun saya undang ke rumah. Saya sampaikan soal jempol yang bengkak tadi. Maka, mulai beraksilah dia. Wadoouuuww…..!!!!!! Wadouuuwwwww……!!!!!! Sakitnya minta ampun. Saya sampai meringis-ringis dan mengeluarkan air mata karena menahan sakit yang luar biasa.

Setelah itu, jempol kaki saya masih sangat sakit. Bahkan, lebih sakit. Hingga berhari-hari, dipakai berjalan sangat sulit. Saya harus tertatih-tatih ke mana pun pergi. Lama-lama berkurang sendiri (Sebab, sampai sekarang masih terasa sakit jika ditekuk. Belum bisa pulih seperti sedia kala). Cerita keseleo tahap pertama ini pun hanya berhenti di situ. Dan, saya menganggapnya memang keseleo. 

Selang setahun lebih, terjadilah “peristiwa keseleo kedua”. Bukan pada jempol kaki, tapi pergelangan kaki. Tetap di sebelah kiri. Awal ceritanya juga hampir sama.

SEGERA PERIKSA: Pergelangan kaki terasa seperti keseleo bisa jadi adalah asam urat.
SEGERA PERIKSA: Pergelangan kaki terasa seperti keseleo bisa jadi adalah asam urat.

Beberapa hari sebelumnya, saya baru saya mengemudikan mobil jarak jauh. Pas pulang, begitu turun dari mobil, pergelangan kaki terasa seperti keseleo. 

Awalnya, tak begitu terasa. Masih bisa dipakai pergi ke kantor naik motor. Meskipun, untuk berjalan mulai terasa sakit. Tapi, nyeri itu semakin menghebat ketika saya bangun pagi keesokan harinya. Pergelangan kaki kiri sangat sulit untuk digerakkan.

Saya sampai harus memeganginya dengan tangan sekadar untuk memindahkan posisi ‘sang kaki’. Kembali, saya mikir, ini keseleo! Tapi, mulai ada dugaan asam urat karena ayah dan ibu saya juga sudah terkena. Gejalanya mirip. 

Begitu matahari agak tinggi, saya minta diantar ke tukang pijit langganan baru. Saya sampaikan keluhan itu. Namun, juga saya minta untuk tidak terlalu keras memijatnya. Sebab, jangan-jangan asam urat. Saya pun kembali meringis-ringis.

Pulang dari sana, saya malah lebih kesakitan. Yang semula masih bisa menahan sakit untuk berjalan, sekarang sangat sulit. Saya harus bertopang pada benda-benda sekitar. Seharian penuh saya terbaring di kasur. Bahkan, untuk menggerakkan kaki pun sudah sangat sulit. Sampai-sampai, harus pinjam kruk tetangga untuk berjalan. 

Dugaan asam urat menguat. Apalagi, saya cek di hasil lab yang pernah saya ikuti, ternyata kandungan asam urat saya melebihi angka normal, 7. Sorenya, saya bawa ke dokter. Tetap dengan memakai kruk. Saya sampaikan apa keluhannya.

Tepat! Dokter mengatakan bahwa saya terkena asam urat! Ketika saya sampaikan soal ‘pijit-memijit’, dia langsung memberikan nasihat. “Bisa bahaya,” katanya.

“Sebab, pada saat itu, urat dan jaringan otot sedang meradang. Bengkak. Posisinya sangat rawan. Lha kalau bengkak terus dipijit-pijit, apalagi ditekuk-tekuk, jaringan otot itu bisa rusak. Bahkan, rusak permanen,” lanjut pak dokter langganan ini. 

Lha kalau sudah telanjur, gimana Dok? “Ya sudah, gimana lagi. Tunggu saja. Jangan dipakai olahraga atau bergerak yang berat-berat. Kalau nanti benar-benar bisa pulih seperti semula, berarti tidak ada kerusakan permanen.

Begitu pula sebaliknya,” jawab dokter ini. Setelah itu, saya disuntik (ini satu-satunya dokter sekarang yang saya tahu masih mau menyuntik pasiennya. Dokter-dokter lain yang saya kunjungi biasanya hanya beri resep). Lalu, juga diberi obat langsung dari dia. Murah. Tidak sampai Rp 50 ribu sudah plus obatnya waktu itu.

Pulang dari dokter, saya sempatkan ke kantor. Teman-teman kaget saya pakai kruk. Dikira kecelakaan. “Kena asam urat,” jawab saya. Beberapa pekerjaan saya selesaikan. Setelah itu, pulang. Saat pulang, kruk sudah bisa saya lepas. Saya tak lagi memakainya meski berjalan masih tertatih.

Esoknya, bangun tidur, lebih mendingan lagi. Hingga, beberapa hari kemudian, alhamdulillah, sembuh. Saya bisa berjalan seperti semula. Dan, efek nyeri di pergelangan kaki sama sekali hilang sekitar tiga minggu kemudian. Ini berarti, kerusakan permanen pada jaringan otot di dalamnya tidak terjadi. 

Dari hasil pemeriksaan dokter itulah, saya ingat ‘peristiwa keseleo’ yang pertama. Jangan-jangan, jempol kaki kiri saya yang sampai sekarang masih terasa agak nyeri kalau digerakkan itu sudah rusak jaringan ototnya…. 

Jadi, hati-hati jika tiba-tiba Anda merasa seperti keseleo pada pergelangan kaki, jempol kaki, (juga lutut kata dokter dan banyak orang). Sebab, jangan-jangan, itu bukan keseleo. Melainkan, asam urat…. !!!

(Seperti dikisahkan R. Dwi Maulana kepada Jawa Pos Radar Malang)

Editor : A. Nugroho
#asam urat #Kesehatan #keseleo