Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Fenomena Doomscrolling yang Memengaruhi Kesehatan Mental dan Produktivitas Generasi Digital

A. Nugroho • Sabtu, 20 September 2025 | 21:15 WIB
PEMICU STRES: Doomscrolling bukan sekadar kebiasaan membaca berita, melainkan pola perilaku yang berpotensi menurunkan kualitas hidup.
PEMICU STRES: Doomscrolling bukan sekadar kebiasaan membaca berita, melainkan pola perilaku yang berpotensi menurunkan kualitas hidup.

 

RADAR MALANG – Di era digital, hampir semua orang ingin tetap terhubung dengan berita terbaru. Akses informasi yang begitu mudah membuat kita sering merasa wajib mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia, terutama ketika situasi terasa tidak pasti atau mengkhawatirkan. Dari sini, kebiasaan menggulir berita tanpa henti, yang dikenal dengan istilah doomscrolling, semakin marak dilakukan.

 

Sekilas, doomscrolling tampak seperti aktivitas biasa untuk mencari informasi. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, kebiasaan ini bisa memengaruhi kesehatan mental maupun fisik. Informasi negatif yang dikonsumsi terus-menerus dapat memicu stres, rasa cemas, hingga gangguan tidur. Berikut adalah sejumlah dampak yang perlu diwaspadai sekaligus cara bijak untuk mengendalikannya.

 

  1. Menurunkan kualitas tidur

Kebiasaan mengecek media sosial atau portal berita menjelang tidur sering membuat seseorang sulit meletakkan ponselnya. Akibatnya, waktu istirahat terpotong dan tidur menjadi kurang lelap. Kondisi ini dapat berimbas pada suasana hati yang buruk di keesokan hari, serta mengurangi energi untuk beraktivitas.

 

  1. Meningkatkan risiko gangguan mental

Bagi individu yang sudah memiliki riwayat gangguan psikologis, doomscrolling dapat memperburuk gejala yang ada. Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan ini berkaitan dengan munculnya atau memburuknya depresi, gangguan kecemasan, hingga PTSD. Alih-alih menenangkan, aktivitas tersebut justru memperberat beban mental.

 

  1. Mengurangi aktivitas fisik

Banyak orang yang tenggelam dalam doomscrolling melakukannya sambil duduk atau berbaring lama. Pola hidup yang minim gerak ini bisa memicu masalah postur, seperti nyeri punggung atau leher. Dalam jangka panjang, gaya hidup sedenter ditambah tingkat stres tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit kronis, termasuk diabetes tipe 2 dan gangguan jantung.

 

  1. Membuat tingkat stres melonjak

Paparan terus-menerus pada berita negatif membuat otak berada dalam kondisi siaga yang berlebihan. Tubuh merespons dengan meningkatkan hormon stres seperti kortisol. Jika berlangsung lama, hal ini dapat menyebabkan hyperarousal, yaitu keadaan tubuh selalu waspada meskipun tidak ada ancaman nyata di sekitar.

 

Setelah memahami dampaknya, penting untuk mencari cara mengurangi kebiasaan doomscrolling. Salah satunya adalah dengan membatasi waktu penggunaan media sosial. Misalnya, hanya membuka aplikasi berita dalam rentang waktu tertentu setiap harinya agar tidak berlarut-larut.

 

Selain itu, mematikan notifikasi aplikasi juga efektif untuk mengurangi godaan mengecek ponsel. Fitur seperti Do Not Disturb dapat membantu Anda lebih fokus pada aktivitas penting tanpa terganggu oleh update berita yang sebenarnya tidak terlalu mendesak.

 

Mengalihkan perhatian pada aktivitas lain juga bisa menjadi solusi. Berjalan kaki, membaca buku, atau melakukan hobi yang menyenangkan dapat membantu menenangkan pikiran sekaligus menjaga kesehatan fisik.

 

Tidak kalah penting, praktik meditasi mindfulness mampu menurunkan dorongan untuk terus mencari kabar buruk. Dengan melatih diri untuk hadir pada momen saat ini, Anda akan lebih mudah menerima keadaan dengan tenang dan menumbuhkan pandangan positif.

 

Pada akhirnya, doomscrolling bukan sekadar kebiasaan membaca berita, melainkan pola perilaku yang berpotensi menurunkan kualitas hidup. Jika dibiarkan, dampaknya bisa meluas ke kesehatan mental, fisik, hingga produktivitas sehari-hari.

 

Menyadari bahaya ini adalah langkah pertama untuk berubah. Dengan mengatur konsumsi informasi, membatasi waktu layar, dan lebih banyak melakukan aktivitas sehat, kita bisa keluar dari lingkaran doomscrolling. Jika merasa sulit mengendalikannya, jangan ragu meminta bantuan profesional agar dapat kembali menjalani hidup dengan lebih seimbang. (ys)

Editor : A. Nugroho
#produktivitas #kesehatan mental #psikologis #doomscrolling