MALANG RAYA – Biaya klaim untuk peserta BPJS Kesehatan penyandang diabetes cukup tinggi setiap tahunnya. Berdasar data BPJS Kesehatan Cabang Malang, sampai September lalu, nilainya sudah tembus Rp 131,92 miliar (selengkapnya baca grafis). Itu merupakan nilai klaim untuk semua peserta di Malang Raya.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Malang Yudhi Wahyu Cahyono mengatakan, klaim tersebut dipengaruhi peningkatan jumlah kasus diabetes. Untuk mencegah lonjakan, pihaknya turut melakukan upaya promotif maupun preventif.
”Itu selaras dengan program Kementerian Kesehatan RI yang berkaitan dengan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” kata dia, kemarin (13/11). Salah satu upaya yang dilakukan BPJS Kesehatan Cabang Malang yakni menggelar program pengelolaan penyakit kronis (prolanis).
Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup peserta BPJS Kesehatan yang memiliki penyakit kronis seperti diabetes. ”Program prolanis biasanya dilakukan di faskes (fasilitas kesehatan) yang menjadi mitra kami. Di program itu, kami memberikan edukasi kepada peserta dan para lansia yang memiliki penyakit degeneratif,” papar Yudhi.
Edukasi dilakukan oleh dokter maupun tenaga farmasi. Sebagai contoh edukasi yang dilakukan tenaga farmasi biasanya berupa jadwal minum obat yang tepat. Selain itu ada kegiatan senam. Pada Prolanis, BPJS Kesehatan Cabang Malang akan melakukan kegiatan secara jemput bola setiap satu pekan sekali.
Salah satunya di Klinik Bunga Melati Panjaitan Malang, kemarin. Ada pula pemantauan atau monitoring peserta BPJS Kesehatan Cabang Malang yang masuk dalam komunitas Prolanis. Monitoring dilakukan rutin melalui faskes. Pihak faskes biasanya akan menyampaikan hasil monitoring peserta kepada BPJS Kesehatan Cabang Malang.
Selain upaya pencegahan, ada pula penanganan bagi orang dengan diabetes di rumah sakit. Bentuk penanganan yang dilakukan beragam. Disesuaikan dengan kondisi penderita diabetes.
Spesialis penyakit dalam RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) dr Rulli Rosandi SpPD-KEMD menjelaskan, sebagai pusat rujukan di Malang bagian selatan, pihaknya mendapati banyak kasus diabetes yang kompleks. Mulai dari diabetes yang menyebabkan gangguan pada tulang, jantung, ginjal, hingga tulang (osteomielitis).
”Dengan berbagai macam kondisi, penanganan yang dilakukan pun melibatkan banyak disiplin ilmu,” ucap Rulli. Sebagai contoh untuk yang berpengaruh terhadap tulang, melibatkan dokter spesialis ortopedi. Lalu untuk jantung ditangani dokter spesialis penyakit jantung.
Pihaknya juga melibatkan dokter spesialis penyakit ginjal jika diabetes sudah menyebabkan komplikasi pada ginjal. Selain itu dokter spesialis mata jika diabetes berdampak terhadap menurunnya penglihatan.
Karena itu, saat dirujuk ke faskes tingkat lanjut seperti RSSA, pasien akan mendapat pemeriksaan lengkap. Mulai dari foto toraks, rekam jantung, angke brachial index (ABI) atau pemeriksaan aliran darah pada kaki, hingga pemeriksaan lain sesuai kondisi yang dialami pasien. Rulli melanjutkan, kondisi masing-masing pasien diabetes umumnya tidak sama.
Menurut jenisnya, diabetes terbagi menjadi empat jenis. Pertama, diabetes mellitus tipe 1 yang dialami anak-anak. Untuk diabetes mellitus tipe 1 umumnya disebabkan penyakit autoimun. Yang kedua, diabetes mellitus tipe 2 yang dipengaruhi faktor genetik dan resistensi insulin karena kadar gula darah berlebih.
Jenis diabetes yang ketiga yakni diabetes tipe lain. Diabetes itu disebabkan oleh konsumsi obat atau penyakit penyerta. Yang terakhir, diabetes gestasional, yang biasanya dialami oleh ibu hamil. Saat ini, penanganan maupun pengobatan yang diberikan kepada pasien diabetes sudah ter-cover BPJS Kesehatan. ”Termasuk untuk kebutuhan insulin,” sebut Rulli.
Pasien diabetes juga harus menjalani kontrol rutin. Salah satunya yang dialami oleh Ahmad Given Abqary Sugiono, 5. Dia harus mendapat pengobatan diabetes sejak usianya 2,5 bulan. Menurut Novita, ibunya, sebelum terdiagnosa diabetes mellitus tipe 1, Given sempat mendapat vaksin.
Namun setelah itu tubuhnya mengalami panas tinggi hingga 43 derajat selsius. Given juga sempat dirawat di rumah sakit karena koma selama dua minggu. Setelah dicek pihak rumah sakit, ternyata dia mengalami kondisi neonatal diabeticum atau diabetes yang terjadi pada bayi baru lahir.
”Padahal di keluarga kami tidak ada riwayat penyakit diabetes,” ucap Novita. Sejak anaknya didiagnosis diabetes, perempuan asal Karangploso itu benar-benar mengontrol pola hidup putranya. Termasuk makanan atau minuman yang dikonsumsi Given.
Novita juga rutin melakukan cek darah dan memberikan insulin kepada Given. Putranya itu kini terbiasa dengan diabetes yang diidapnya. Meski sempat mengalami keterlambatan berjalan pada usia 2,5 tahun, kondisinya saat ini semakin membaik.
Pengalaman lain juga dirasakan Asila Munir Abbad. Dia memiliki tiga anak. Salah satunya Basam Nizar Bahweres yang merupakan anak pertama. Menurut Asila, Nizar terdeteksi diabetes sejak usianya 21 bulan. Sama seperti Given, di keluarga Nizar sebenarnya tidak ada yang memiliki riwayat diabetes.
Asila harus menjaga pola hidup Nizar secara ketat. Sejak awal, dia tidak pernah memberikan Nizar makanan yang mengandung gluten hingga susu UHT. ”Sempat kaget. Karena saya menjaga gula sekali di keluarga. Tapi rupanya ada diabetes yang disebabkan oleh autoimun,” cerita dia.
Selain mengontrol pola hidup, Nizar juga rutin mendapat suntikan insulin. Pada usianya yang ke-4 tahun, Nizar mendapat suntik insulin sebanyak lima kali dalam sehari. Seperti diberitakan, sampai akhir Oktober lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat ada 9.693 kasus diabetes yang baru.
Selain itu ada 6.904 kasus lama yang sampai saat ini masih menjalani proses pengobatan. Dari tahun ke tahun ada tren peningkatan jumlah pengidap diabetes. Pada 2023 lalu, dinkes mencatat ada 6.619 kasus baru. Sementara tahun 2024 ada 15.627 kasus baru. (mel/by)
Editor : A. Nugroho