KEPANJEN - Jumlah warga Kabupaten Malang yang mengidap diabetes cukup banyak. Itu terlihat dari rekapitulasi Dinas Kesehatan (Dinkes) dalam dua tahun terakhir. Pada 2025 ini, temuan pasien baru lebih banyak dibanding 2024.
Sepanjang 2025, dinkes mencatat ada 43.293 pasien baru (selengkapnya baca grafis). Kepala Dinkes Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo menyebut bahwa angka itu berasal dari rekap pada bulan Januari sampai November.
”Angka tersebut didapat dari jumlah penderita yang diperiksa di Puskesmas atau Fasilitas Kesehatan (Faskes) milik Pemkab Malang,” kata dia.
Dokter Wi, sapaan akrabnya menambahkan, bahwa penderita diabetes yang terdata adalah warga yang berusia antara 15 sampai 60 tahun ke atas. ”Antara 80 sampai 90 persen dari penderita itu berusia 30 tahun ke atas sampai batasnya lansia,” imbuh dia.
Dari banyaknya kasus yang ditemukan itu, dinkes memiliki prevalensi atau perkiraan bahwa 2,9 persen penduduk Kabupaten Malang menderita diabetes. Angka tersebut juga didasarkan pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang.
Lebih lanjut, Kasi Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kabupaten Malang Paulus Gatot Kusharyanto menyatakan bahwa penderita diabetes melitus di Bumi Kanjuruhan selalu meningkat setiap tahunnya.
Ada tiga faktor yang memengaruhinya. ”Pertama karena usia seseorang yang membuat kemampuan organ menurun. Kedua karena gaya hidup tidak sehat,” sebut dia.
Gaya hidup tidak sehat seperti berkurangnya minat masyarakat untuk berolahraga. Sekaligus tidak banyak bergerak. Selain itu, pola makan yang cenderung lebih banyak karbohidrat dan glukosa juga berpengaruh. ”Makanan dan jajanan sekarang banyak yang tinggi kandungan gulanya. Terutama minuman-minuman kemasan dan jajanan,” kata Gatot.
Dia juga menyoroti ancaman diabetes pada anak-anak yang makin tinggi. Sebab, anak-anak cenderung menyukai makanan dan minuman yang manis. ”Katakanlah jajanan di dalam sekolah gizinya terjaga, termasuk gulanya. Tapi kalau jajan di luar sekolah kan banyak, di sanalah letak bahayanya,” imbuh dia.
Faktor berikutnya yang berpengaruh yakni keturunan. Dia menyebut bahwa diabetes merupakan penyakit yang tidak menular. Dan, sampai sekarang belum ada obat yang bisa 100 persen menyembuhkannya. Hanya ada deteksi dini dan pencegahan untuk menekan angka penderita diabetes.
Karena itu, promosi kesehatan berupa kampanye hidup sehat di Posyandu dan Puskesmas di seluruh wilayah Kabupaten Malang terus dilakukan. Skrining kesehatan juga terus digalakkan. Gatot mengatakan bahwa pengecekan kadar gula darah dan tensi dapat dilakukan di Puskesmas, Posyandu, dan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu).
”Setiap warga wajib minimal setahun sekali tes kesehatan, Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) Gula Darahnya sudah disiapkan Pemkab. Biayanya gratis,” ucap dia. Pemeriksaan kesehatan juga ditekankan dalam Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 31 Tahun 2021 tentang Posbindu Smart Health.
Regulasi itu mengatur bahwa setiap warga dengan usia 15 tahun ke atas wajib melakukan pemeriksaan kesehatan, guna mendeteksi dini penyakit tidak menular. Terakhir, apabila ditemukan warga yang terdeteksi diabetes, bakal segera dilakukan tindakan.
Setiap Puskesmas dapat menangani penyakit tersebut di poli pandu Penyakit Tidak Menular (PTM) Puskesmas. ”Saat ditemukan diabetes melitus, langsung ke Puskesmas ketemu dokter. Nanti dari Puskesmas dikasih obat, kalau tidak mempan baru dirujuk ke RS,” tandas Gatot. (biy/by)
Editor : A. Nugroho