KOTA MALANG — Kasus self-harm dan bunuh diri yang melibatkan remaja dan mahasiswa belakangan ini kembali mengundang keprihatinan publik. Psikolog dari Hanania Kidz Clinic, Ratri Nurwanti, S.Psi., M.Psi., menegaskan bahwa self-harm (melukai diri) dan bunuh diri merupakan dua hal berbeda, terutama dari sisi niat atau intensinya.
Menurut Ratri, self-harm atau non-suicidal self-injury umumnya tidak dilakukan dengan tujuan mengakhiri hidup. Perilaku ini justru menjadi mekanisme koping yang keliru untuk meredakan tekanan emosi yang sangat berat. “Rasa sakit fisik dijadikan pengalih dari rasa sakit emosional yang sulit mereka pahami atau ungkapkan,” jelasnya.
Berbeda dengan bunuh diri yang didorong oleh perasaan putus asa mendalam dan keyakinan bahwa tidak ada jalan keluar lain selain mengakhiri hidup. Meski demikian, Ratri mengingatkan bahwa self-harm yang tidak tertangani tetap berisiko berkembang menjadi percobaan bunuh diri.
Ia memaparkan sejumlah faktor pemicu utama, di antaranya ketidakmampuan remaja meregulasi emosi, tekanan akademik dan tuntutan performa, serta perasaan terisolasi secara sosial. “Pada mahasiswa tingkat akhir misalnya, skripsi bisa dipersepsikan sebagai segalanya. Saat buntu, muncul perasaan gagal total dan tidak berharga,” ujarnya.
Tantangan kesehatan mental generasi saat ini, lanjut Ratri, juga semakin kompleks. Budaya serba instan membuat remaja mudah frustrasi saat menghadapi masalah yang membutuhkan proses panjang.
Minimnya keterampilan coping sehat serta ketergantungan pada validasi media sosial turut membuat harga diri remaja menjadi rapuh. “Sedikit kegagalan atau kritik bisa dirasakan sebagai kehancuran identitas,” katanya.
Karena itu, Ratri mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak. Penarikan diri, gangguan tidur dan pola makan, hilangnya minat pada aktivitas favorit, hingga iritabilitas yang berlebihan dapat menjadi tanda bahaya.
Tanda fisik seperti sering mengenakan pakaian lengan panjang di cuaca panas atau ucapan bernada putus asa juga perlu diwaspadai.
Sebagai upaya penanganan, Hanania Kidz Clinic menyediakan layanan konseling dan psikoterapi, screening kesehatan mental, psikoedukasi, serta sesi parenting dan keluarga. Pendekatan ini tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif dan promotif. “Kami percaya keluarga adalah benteng pertahanan pertama kesehatan mental anak,” tegasnya.
Di akhir, Ratri mengajak orang tua dan masyarakat untuk mengubah cara merespons masalah anak. Alih-alih menasihati atau membandingkan dengan pengalaman masa lalu, anak justru membutuhkan validasi dan kehadiran emosional.
“Prestasi akademik bisa dikejar, tapi nyawa dan kesehatan mental anak tidak ada gantinya. Jadilah rumah yang aman untuk mereka pulang,” pungkasnya.
Editor : A. Nugroho