Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Identifikasi 2 Nakes Positif Hepatitis B, Hasil Proses Tracing yang Dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang pada Kelompok Berisiko

Bayu Mulya Putra • Kamis, 19 Februari 2026 | 12:09 WIB

 

Ilustrasi virus hepatitis b
Ilustrasi virus hepatitis b

KEPANJEN - Deteksi dini hepatitis B terus dilakukan terhadap ibu hamil dan kelompok berisiko. Contohnya seperti bayi yang lahir dari ibu hepatitis B, pengguna narkotika, dan tenaga kesehatan (nakes) (selengkapnya baca grafis).

Sebagai informasi, hepatitis merupakan penyakit peradangan hati akibat berbagai macam virus, bakteri, dan parasit. Sedangkan hepatitis non-virus bisa terjadi akibat konsumsi alkohol dan obat-obatan. Kasus yang terbanyak ditemukan yakni infeksi virus hepatitis B.

Menurut data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, jumlah kelompok berisiko yang terinfeksi HIV cenderung menurun. Pada 2024 lalu, jumlahnya 96 orang. Sedangkan pada 2025 ada 86 orang. “Per Januari 2026, ada dua orang dari kelompok berisiko yang terkena hepatitis B. Mereka dari kalangan nakes,’’ ujar Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kabupaten Malang Chairiyah, kemarin (18/2).

Hepatitis tersebut berbahaya. Sebab, dia menyebut, sebagian besar penderita hepatitis B tidak merasakan gejala yang signifikan, atau bahkan tidak ada gejala. Namun beberapa orang dapat merasakan berbagai gejala. Seperti kulit dan daerah mata yang menguning akibat kerusakan hati. “Itu biasanya diikuti gejala lain seperti mudah lelah, kurang nafsu makan, mual dan muntah, demam, serta urine lebih pekat,” imbuhnya.

Infeksi hepatitis B kronis dapat menimbulkan komplikasi berbahaya.  Seperti sirosis atau kanker hati. Oleh karena itu, penderita hepatitis B kronis perlu melakukan kontrol secara berkala ke dokter untuk mendapatkan penanganan dan deteksi dini bila terjadi komplikasi.

Penyakit tersebut juga tidak bisa disembuhkan. Tapi ada pengobatan yang bisa menekan pertumbuhan jumlah virus. Obat antivirus yang dapat diberikan antara lain entecavir, tenofovir, telbivudine, lamivudine, dan adefovir. “Penanganannya sama semua. Hanya berbeda untuk ibu hamil dan bayi,” tambah Chair.

Kepala Dinkes Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo menyebut, bayi yang lahir dari ibu dengan infeksi hepatitis B harus segera menjalani vaksinasi. “Vaksinnya harus (diberikan) dalam waktu kurang dari 24 jam. Vaksinasi tersebut yakni immunoglobulin yang berfungsi memperkuat kekebalan tubuh untuk melawan virus hepatitis B,” ucapnya.

Sebab, penularan hepatitis B dapat terjadi karena ada kontak dengan darah penderita atau parenteral. Namun, penularan paling banyak terjadi secara vertikal. Yaitu penularan dari ibu hamil kepada anaknya. Sehingga harus segera diberi vaksin.

Selain itu, penularan secara horizontal pun dapat terjadi. Biasanya pada populasi berisiko. Misalnya pasien HIV/AIDS, pasien IMS, Wanita Pekerja Seks (WPS), LSL, keluarga penderita hepatitis, pasien hemodialisis, dan waria.

Untuk diketahui, terdapat berbagai macam hepatitis. Di antaranya hepatitis A, B, dan C. Hepatitis A penularannya melalui makanan. Sifatnya lebih akut dan berpotensi menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa). Namun, bisa disembuhkan, asalkan, daya tahan tubuh penderita kuat. Hepatitis C pun bisa disembuhkan, tetapi biasanya menyerang pengguna narkoba suntik. (yun/by)

Editor : A. Nugroho
#virus hepatitis #dinkes #malang #Nakes