Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mitos atau Fakta: Benarkah Kutu Kucing Bisa Menular ke Manusia? Simak Penjelasan Berikut

Marsha Nathaniela • Senin, 4 Mei 2026 | 15:25 WIB
Meski tidak dapat berkembang biak di kulit manusia, kutu kucing dapat menular dan menimbulkan rasa gatal dan bentol kemerahan. (Freepik).
Meski tidak dapat berkembang biak di kulit manusia, kutu kucing dapat menular dan menimbulkan rasa gatal dan bentol kemerahan. (Freepik).

RADAR MALANG – Selain menjadi masalah bagi anabul, keberadaan kutu kucing juga kerap menimbulkan kekhawatiran bagi pemiliknya. Kondisi ini wajar terjadi karena kutu kucing dapat menular dan menggigit manusia sehingga timbul rasa gatal dan bentol kemerahan.

Kutu kucing merupakan parasit berukuran kecil yang bertahan hidup dengan cara mengisap darah dari hewan inangnya.

Baca Juga: Tanpa Obat Khusus, Ini Cara Alami Mengatasi Nyeri Haid

Umumnya, penularan kutu kucing ke manusia ini terjadi melalui kontak fisik langsung atau tidak langsung. Misalnya, saat kucing yang mempunyai kutu berinteraksi fisik dengan manusia, kutu bisa melompat dari bulu kucing ke kulit maupun pakaian. Sementara itu, penularan juga dapat terjadi di lingkungan rumah. Kutu dapat bersarang di karpet, sofa, tempat tidur, hingga celah-celah lantai.

Namun, kutu kucing tidak dapat berkembang biak atau hidup lama di kulit manusia karena struktur rambut dan kulit manusia berbeda dengan inang alaminya, yakni kucing.

Baca Juga: Kenali Kandungan Skincare yang Aman bagi Ibu Hamil

Meski demikian, gigitan kutu kucing dapat menimbulkan berbagai risiko penyakit. Berikut penjelasannya.

1. Penyakit Cakaran Kucing (Cat Scratch Disease)

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri bartonella henselae. Infeksi ini terjadi setelah digigit atau dicakar kucing yang terkontaminasi dengan bakteri tersebut. Adapun gejalanya berupa benjolan kecil di area cakaran atau gigitan, demam, sakit kepala, dan pembengkakan kelenjar getah bening.

2. Cacing Pita (Dipylidium Caninum)

Cacing pita dapat terjadi apabila tidak sengaja menelan kutu yang terinfeksi. Gejala yang akan muncul, di antaranya sakit perut dan diare ringan.

Baca Juga: Sering Dianggap Sepele, Ini Waktu yang Tepat untuk Ganti Handuk

 

3. Tifus Murine (Tifus Endemik)

Tifus murine disebabkan oleh bakteri rickettsia typhi yang menimbulkan gejala demam, ruam, sakit kepala, serta nyeri tubuh.

Guna mencegah penularan kutu kucing, Anda dapat melakukan beberapa metode berikut.

Kutu kucing memang mengganggu kenyamanan, baik bagi anabul maupun pemiliknya. Namun, parasit ini dapat diatasi dengan penggunaan obat khusus kutu kucing dan juga dapat dicegah melalui berbagai metode perawatan yang tepat sehingga risiko penularan kutu kucing dapat diminimalisir.

Baca Juga: Mengenal Virus PMK yang Ditakuti Peternak Sapi

 

Editor : Aditya Novrian
#kutu kucing #kutu kucing menular #anabul #kucing