Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Empat Bulan, Dinkes Kota Malang Catat 19 Angka Kematian Ibu dan Bayi

Nabila Amelia • Rabu, 6 Mei 2026 | 16:14 WIB
BERI PERHATIAN PENUH: Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin menandatangani kolaborasi GERAKAN PENTING bersama lintas sektor di Hotel Atria, kemarin (5/5). (Prokopim Kota Malang For Radar Malang)
BERI PERHATIAN PENUH: Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin menandatangani kolaborasi GERAKAN PENTING bersama lintas sektor di Hotel Atria, kemarin (5/5). (Prokopim Kota Malang For Radar Malang)

MALANG KOTA, RADAR MALANG – Mulai Januari sampai awal Mei tahun ini, tercatat ada dua kasus kematian ibu dan 17 kasus kematian bayi maupun balita. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Husnul Muarif memastikan pihaknya terus berupaya menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi-balita (AKB). 

Progresnya terlihat dari grafik selama tiga tahun terakhir. Pada 2024, AKI di Kota Malang ada 9 kasus. Sementara AKB ada 113 kasus. Sementara pada 2025 untuk AKI ada lima kasus dan AKB ada 98 kasus. ”Kami berharap untuk angka yang sudah tercatat pada 2026 tidak bertambah,” kata Husnul, kemarin (5/5).

Dia melanjutkan, sesuai target Kota Malang, AKI harus di bawah lima kasus. Sementara AKB tidak boleh lebih dari 113 kasus. Ditanya terkait penyebab masih ditemukannya kematian, Husnul menyebut ada beberapa faktor. Sebagai contoh untuk AKI, yang paling banyak disebabkan oleh kehamilan dan hipertensi. 

Selain itu juga pendarahan pasca-persalinan. Untuk menekan angka kematian, dinkes mencetuskan GERAKAN PENTING (Gerak Bersama Organisasi Kesehatan dalam Penurunan AKB, AKI, dan Stunting). Bentuk penanganan lewat GERAKAN PENTING dimulai dari Puskesmas.

”Di Puskesmas kan ada bidan koordinator dan bidan wilayah. Mereka memiliki data kantong persalinan,” sebut Husnul.

Dari data bisa dilacak ibu-ibu yang memiliki risiko kematian tinggi maupun tidak berisiko. Yang bisa ditangani, jika ibu-ibu hamil memiliki riwayat tertentu seperti hipertensi bisa diberi pengobatan agar kondisinya tidak semakin parah.

Sementara untuk bayi yang berisiko, bisa diwaspadai lewat beberapa gejala. Seperti asfiksia dan bayi berat lahir rendah (BBLR).

Setelah mengetahui adanya anak maupun ibu yang memiliki risiko kematian, bidan bisa terjun ke lapangan. Tujuannya untuk memberi edukasi hingga mengarahkan agar mereka mendapat penanganan lebih lanjut.

Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin menyampaikan, GERAKAN PENTING merupakan bagian dari dasa bakti Ngalam Tahes. ”Karena kami menginginkan zero kematian bagi ibu maupun bayi dan balita,” tegasnya.

Untuk itu seluruh elemen diajak berkolaborasi. Mulai dari dinas sosial, kementerian agama, kepolisian, hingga perangkat setempat.  ”Kalau dari segi fasilitas kesehatan, di Puskesmas-Puskesmas Kota Malang sudah relatif lengkap,” ungkap Ali.

Namun para ibu maupun bayi dan balita yang berisiko tetap membutuhkan pendampingan. Tidak hanya dari puskesmas, tapi juga fasilitas kesehatan tingkat lanjut. (mel/by)

Editor : Bayu Mulya Putra
#kasus kematian ibu dan bayi #wawali malang #malang hari ini #dinkes kota malang