Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Penyakit Kencing Tikus Mulai Marak di Jatim, Dinkes Kabupaten Malang Minta Warga Waspada

Indah Mei Yunita • Senin, 11 Mei 2026 | 17:47 WIB
Ilustrasi hewan tikus sedang mencari makan. (Freepik)
Ilustrasi hewan tikus sedang mencari makan. (Freepik)

KEPANJEN, RADAR MALANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap leptospirosis atau penyakit kencing tikus. Imbauan itu muncul setelah kasus leptospirosis di Kabupaten Pacitan melonjak hingga 139 kasus sejak Januari sampai awal Mei 2026.

Meski di Kabupaten Malang belum ditemukan kasus tahun ini, Dinkes meminta masyarakat tetap waspada karena penyakit tersebut tergolong berbahaya dan dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.

Dinkes Kabupaten Malang Pastikan Belum Ada Kasus

Kepala Dinkes Kabupaten Malang Wiyanto Wijoyo mengatakan hingga saat ini belum ada laporan kasus leptospirosis di wilayah Kabupaten Malang.

“Di Kabupaten Malang tahun ini belum ada kasusnya,” ujar Wiyanto, Senin (11/5).

Namun, ia menegaskan masyarakat tidak boleh lengah terhadap penyebaran penyakit tersebut.

Baca Juga: Waspada Hantavirus! Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Pencegahannya

Leptospirosis Bisa Sebabkan Gagal Ginjal

Menurut Wiyanto, leptospirosis termasuk penyakit yang dapat berakibat fatal apabila terlambat ditangani.

“Leptospirosis cukup berbahaya. Jika tidak ditangani dengan cepat, ginjalnya bisa rusak dan harus cuci darah,” imbuhnya.

Karena itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada leptospirosis.

Baca Juga: Update Hantavirus: Menkes Budi Gunadi Koordinasi dengan WHO Terkait Ancaman Hantavirus di Indonesia

Kenali Gejala Penyakit Kencing Tikus

Gejala leptospirosis cukup beragam dan kerap menyerupai penyakit lain.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi, menggigil, sakit kepala, mual, muntah, hingga hilang nafsu makan.

Selain itu, penderita juga bisa mengalami diare, mata merah, nyeri otot, sakit perut, hingga muncul bintik merah di kulit yang tidak hilang saat ditekan.

Baca Juga: Dua Pasien Suspek Hantavirus Ditemukan di Indonesia, Pemerintah Gerak Cepat Cegah Penyebaran

Penularan Tidak Hanya dari Tikus

Wiyanto menjelaskan bakteri leptospira penyebab leptospirosis dapat menyebar melalui urine hewan yang terinfeksi.

Tikus menjadi salah satu media penularan paling umum. Namun, bakteri juga dapat dibawa hewan lain seperti sapi, anjing, hingga babi.

Bakteri tersebut bisa masuk ke tubuh manusia tidak hanya melalui mulut, tetapi juga melalui luka terbuka yang terkena cairan terkontaminasi.

Untuk mencegah penularan leptospirosis, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi potensi keberadaan tikus di sekitar rumah.

Wiyanto menyebut bakteri leptospira dapat menempel di berbagai benda yang terkena urine tikus, termasuk tutup kaleng atau permukaan lain di rumah.

Karena itu, warga terutama yang bekerja di lingkungan kotor atau lembap diminta menggunakan pelindung tubuh agar kulit tetap kering dan terhindar dari risiko infeksi.

Editor : Aditya Novrian
#leptospirosis #penyakit kencing tikus #gejala leptospirosis #kasus leptospirosis #dinkes kabupaten malang