KEPANJEN, RADAR MALANG - Jumlah penderita kanker serviks fluktuatif setiap tahunnya. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mengungkap, pada 2024 lalu terdapat 444 orang yang menderita kanker serviks. Pada 2025 meningkat menjadi 549 orang.
“Tahun ini kami mencatat ada 101 penderita kanker serviks,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Malang dr Titis Ari Respatilatsih beberapa waktu lalu.
Sebagai informasi, kanker serviks muncul karena ada perubahan atau mutasi dari sel-sel yang sehat. Sehingga sel tersebut tumbuh tidak normal dan tidak terkendali, kemudian berkembang menjadi sel kanker. Kini belum diketahui sebab perubahan sel tersebut. Namun, kondisi tersebut di ketahui karena infeksi human papillomavirus (HPV) yang bisa menular melalui hubungan seksual.
Baca Juga: Mengenal Retinoblastoma, Kanker Mata yang Kerap Menyerang Anak-Anak
Titis menjelaskan, gejala kanker serviks salah satunya pendarahan di vagina.
“Jangan abaikan pendarahan yang terjadi di vagina saat sedang tidak menstruasi, berhubungan intim, atau sudah menopause. Namun pendarahan bisa juga terjadi saat menstruasi, yang menyebabkan darah keluar lebih banyak dari biasanya,” katanya.
Selain itu, dia melanjutkan, muncul keputihan yang berbeda dari biasanya. Keputihan yang biasa terjadi berupa cairan berwarna bening atau putih, tidak berbau, dan tidak menyebabkan gatal atau nyeri di vagina. Perempuan harus waspada jika keputihan yang keluar berwarna atau bercampur darah, berbau tidak sedap, dan menyebabkan gatal.
Baca Juga: Fakta terkait Kanker Payudara yang Wajib Diketahui Perempuan!
Dia mengatakan, nyeri yang tidak mereda di bagian panggul saat berhubungan intim bisa jadi merupakan gejala awal kanker serviks. Jika merasakan nyeri tersebut, dia menyarankan, sebaiknya memeriksakan diri ke dokter.
Selain itu, juga ditandai dengan tubuh mudah lelah. Pendarahan yang tidak normal di vagina menyebabkan tubuh kekurangan sel darah merah, sehingga mudah lelah meski sudah cukup beristirahat.
“Sering buang air kecil juga harus hati-hati. Sel-sel kanker yang tumbuh di leher rahim bisa menyebar ke kandung kemih, sehingga menyebabkan penderita sering buang air kecil,” ucapnya.
Biasanya saat stadium awal, gejala-gejala belum muncul. Oleh karena itu, pihaknya menggencarkan skrining atau deteksi dini kanker serviks, supaya segera mendapat penanganan. Sebab, risiko kematian kanker serviks beragam sesuai stadium.
Dia menyebut, 50 persen pasien yang terkonfirmasi kanker rahim tidak bisa diselamatkan meski sudah mengikuti pengobatan. Sebab, banyak pasien datang berobat dalam kondisi sel kankernya sudah menyebar. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho