KEPANJEN, RADAR MALANG – Sebanyak 535.093 perempuan di Kabupaten Malang belum menjalani skrining kanker serviks hingga pertengahan tahun 2026. Padahal, deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah kanker mulut rahim berkembang ke stadium lanjut yang berisiko meningkatkan angka kematian.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang menunjukkan, dari total 544.958 perempuan yang menjadi sasaran skrining, baru 9.865 orang yang telah menjalani pemeriksaan. Rendahnya capaian tersebut kini menjadi perhatian serius karena masih jauh dari target yang ditetapkan pemerintah.
Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Malang dr Titis Ari Respatilatsih mengatakan, pihaknya telah menyiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan cakupan skrining di masyarakat.
“Tahun ini sasaran skrining kanker serviks ada 544.958 orang. Namun yang sudah melakukan skrining sebanyak 9.865 orang,” ujarnya.
Baca Juga: Ratusan Warga Malang Positif Kanker Serviks
Dinkes Siapkan Pemeriksaan HPV DNA
Untuk memperluas deteksi dini, Dinkes Kabupaten Malang mulai menyiapkan pemeriksaan HPV DNA yang dinilai lebih modern dibanding metode yang selama ini digunakan.
Saat ini, mayoritas skrining masih mengandalkan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA). Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan mengoleskan cairan asam asetat pada leher rahim untuk mendeteksi adanya perubahan sel yang berpotensi berkembang menjadi kanker.
Sementara itu, pemeriksaan HPV DNA bertujuan mendeteksi langsung keberadaan virus Human Papillomavirus (HPV), penyebab utama kanker serviks. Metode ini memungkinkan identifikasi risiko sejak lebih dini sebelum muncul perubahan sel yang terlihat secara visual.
Menariknya, perempuan dapat mengambil sampel secara mandiri saat berada di fasilitas kesehatan sehingga proses pemeriksaan menjadi lebih praktis.
“Dengan alat tersebut, yang bersangkutan bisa mengambil sampel sendiri saat di fasilitas kesehatan,” kata Titis.
Untuk mendukung program tersebut, Pemkab Malang telah mengusulkan pengadaan 44.700 reagen HPV DNA serta 7.000 bahan medis habis pakai (BMHP) yang dibutuhkan dalam pelaksanaan skrining.
ASN Akan Didorong Ikut Skrining
Selain menyiapkan alat dan sarana pemeriksaan, Dinkes juga akan mendorong partisipasi aparatur sipil negara (ASN) dalam program skrining kanker serviks.
Baca Juga: Mulai Januari sampai April, Pemkot Malang Catat 25 Perempuan Positif Kanker Serviks
Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus menjadi contoh pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Dinkes juga menggandeng rumah sakit untuk membantu pemeriksaan sampel HPV DNA yang dikirim dari fasilitas kesehatan tingkat pertama.
“Salah satu upaya kami untuk memaksimalkan skrining yakni bekerja sama dengan rumah sakit untuk pemeriksaan sampel HPV DNA,” jelas Titis.
Di sisi lain, sosialisasi terus diperluas melalui organisasi perempuan, pemerintah desa, puskesmas, hingga berbagai kelompok masyarakat. Pelatihan tenaga kesehatan juga dilakukan agar layanan skrining dapat menjangkau lebih banyak perempuan di seluruh wilayah Kabupaten Malang.
Deteksi Dini Jadi Kunci Pencegahan
Kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Banyak kasus baru terdeteksi ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut sehingga peluang kesembuhan menjadi lebih kecil.
Baca Juga: Penyakit Kencing Tikus Mulai Marak di Jatim, Dinkes Kabupaten Malang Minta Warga Waspada
Karena itu, Dinkes mengingatkan bahwa pencegahan tidak hanya dilakukan melalui skrining, tetapi juga dengan menerapkan pola hidup sehat dan vaksinasi HPV.
“Pencegahan juga bisa dilakukan dengan pola hidup sehat, berhenti merokok, praktik seks aman, dan vaksinasi HPV,” pungkas Titis.
Editor : Aditya Novrian