Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Gejolak Ekonomi dan Rupiah Berdamapak ke Harga Obat di Kota Malang, Berikut Kenaikannya  

Nabila Amelia • Jumat, 12 Juni 2026 | 14:33 WIB
TERDAMPAK RUPIAH: Pemilik Apotek M-24 Meilani Rahma Putri tengah menata obat di etalase. Dia merasakan kenaikan harga sejumlah obat sejak dua bulan terakhir. (Foto: Nabila Amelia/Radar Malang)
TERDAMPAK RUPIAH: Pemilik Apotek M-24 Meilani Rahma Putri tengah menata obat di etalase. Dia merasakan kenaikan harga sejumlah obat sejak dua bulan terakhir. (Foto: Nabila Amelia/Radar Malang)

 MALANG KOTA-RADAR MALANG – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, tak hanya memberikan dampak untuk harga bahan-bahan rumah tangga. Lebih jauh, juga berpengaruh kepada harga obat-obatan. Sejak dua bulan lalu, sejumlah apotek di Kota Malang merasakan dampaknya.

 Salah satunya Apotek M-24 di Jalan Candi Panggung Kota Malang yang baru beroperasi selama 8 bulan. Pemilik  Apotek Meilani Rahma Putri mengungkapkan, kenaikan terjadi pada jenis obat-obatan merek lokal yang banyak dicari. ”Obat-obatan yang banyak dikonsumsi seperti untuk batuk, pilek, meriang, hingga kondom (naik harganya),” ungkap dia, kemarin (11/6).

 Kenaikan yang terjadi berkisar antara 8 persen sampai 15 persen. Meilani menduga, kenaikan pada obat-obatan lokal terjadi karena perusahaan-perusahaan farmasi harus mengimpor bahan dari luar.

Berdasar analis dia, sebenarnya dari segi penjualan relatif stabil. Namun, karena kenaikan bahan baku, akhirnya produk yang dijual ke apotek semakin mahal. ”Sementara harga eceran tertinggi (HET) dari obat tetap. Tapi, keuntungan kami pun semakin menipis,” sambung perempuan yang juga mahasiswi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut.

 Kenaikan harga obat juga dirasakan Steven Sugiharto. Pemilik Apotek Gama Sari itu menyampaikan, obat-obat impor belum mengalami kenaikan harga. Harga yang naik justru untuk obat-obat lokal.

 ”Kemungkinan importir masih memiliki stok atau mungkin margin mereka masih besar. Kalau kenaikan harga obat-obat lokal lebih karena bahan baku,” tutur Steven. Salah satu obat lokal yang naik adalah minyak kayu putih.

 Steven membeberkan, harga minyak kayu putih sudah naik 2 kali lipat. Jika ditotal kenaikannya sekitar 8 persen sejauh ini. ”Namun kalau di tempat saya, pengaruhnya lebih kepada penjualan. Pengaruhnya sudah kami rasakan sejak perang ramai diberitakan beberapa bulan lalu,” pungkasnya. (mel/gp)

Editor : Galih R Prasetyo
#nilai dolar #Harga Obat #Obat di Kota Malang #dampak ekonomi