Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tren Makanan Pedas Ekstrem Digemari Anak Muda, Ini Risikonya bagi Lambung

Aqila Sahira Dewi • Rabu, 8 Juli 2026 | 09:40 WIB
Ilustrasi Makanan Pedas (Foto: Getty images/MelanieMaya)
Ilustrasi Makanan Pedas (Foto: Getty images/MelanieMaya)

MALANG, RADAR MALANG – Tren jajanan dan makanan dengan tingkat kepedasan ekstrem belakangan makin menjamur di kalangan masyarakat, khususnya anak muda. Tingkat kepedasan makanan biasanya diukur mulai dari level 1 hingga level 15 atau bahkan lebih tinggi. Banyak yang mencoba bukan karena benar-benar suka rasa pedas, melainkan sekadar penasaran dan merasa tertantang.

Fenomena ini memang seru untuk konten media sosial, tapi di balik sensasi "nagih" itu, dokter mengingatkan ada risiko kesehatan yang perlu diwaspadai, terutama untuk lambung.

Dampak paling cepat terasa adalah iritasi lambung akut. Kapsaisin dalam dosis tinggi dapat mengiritasi dinding lambung, menimbulkan rasa perih, mulas, dan sensasi terbakar tak lama setelah dikonsumsi. Selain itu, konsumsi pedas berlebihan juga bisa memicu dispepsia, yaitu gejala nyeri di perut bagian atas disertai kembung dan rasa tidak nyaman.

Baca Juga: Gudeg Gardu Malang: Sensasi Krecek Gurih Pedas Jadi Daya Tarik Utama!

Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya menjelaskan bahwa kebiasaan makan pedas yang terlalu sering bisa berujung pada gastritis atau maag. Makanan pedas dapat mengakibatkan naiknya asam lambung secara cepat sebagai respons terhadap iritasi pada dinding lambung.

Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi ini berisiko berkembang jadi GERD atau refluks asam lambung, yang bikin dada dan tenggorokan terasa panas seperti terbakar.

Kelompok yang paling perlu waspada adalah orang dengan riwayat gastritis, asam lambung naik, atau tukak lambung. Gejala pada kelompok ini cenderung memburuk begitu terkena rangsangan dari makanan pedas.

Namun begitu, bukan berarti makanan pedas harus dihindari sepenuhnya. Dalam kadar yang wajar, makanan pedas justru bisa mendukung pertumbuhan mikrobiota usus yang berperan penting bagi kesehatan pencernaan secara keseluruhan. Kuncinya ada pada porsi dan frekuensi konsumsi, bukan menghindarinya sama sekali.

Baca Juga: Dari Chicken Crispy hingga Geprek Level Pedas, Menu Waroeng Om Bikin Anak Kos Kalap

Bagi yang tetap ingin menikmati sensasi pedas tanpa mengorbankan kesehatan lambung, beberapa langkah sederhana bisa membantu. Mengonsumsi makanan pedas bersamaan dengan makanan berserat tinggi atau produk susu bisa mengurangi iritasi pada dinding lambung.

Jika keluhan seperti nyeri ulu hati atau mual sering muncul setelah makan pedas, sebaiknya segera periksa ke dokter agar tidak berkembang menjadi masalah pencernaan yang lebih serius.

 

Editor : Aditya Novrian
#gaya sehat #makan pedas