KOTA MALANG, RADAR MALANG - Tak banyak metode pengembangan diri yang memiliki rentang peserta seluas STIFIn. Di ruang konsultasi, seorang anak berusia tiga tahun bisa bergantian dengan lansia berumur 75 tahun. Kebutuhannya berbeda, tetapi tujuannya sama, yakni mengenali kecenderungan diri sebagai bekal mengambil berbagai keputusan dalam hidup.
Fenomena itu kerap ditemui Rizki Chandra Kharisma atau Kican, Brand Manager STIFIn Batu. Menurutnya, kebutuhan memahami diri tidak dibatasi usia. Ada orang tua yang ingin mengenali karakter anak sejak dini, ada pula mereka yang memasuki masa pensiun dan ingin tetap produktif sesuai kecenderungan dirinya.
Baca Juga: Usia 0-6 Tahun Jadi Fase Krusial, Wabup Malang Minta Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak
“Peserta paling muda yang pernah saya tangani berusia tiga tahun, sedangkan yang paling tua 75 tahun. Kebutuhan mereka berbeda, tetapi sama-sama ingin lebih memahami dirinya,” ujarnya.
Bagi anak-anak, hasil tes umumnya dimanfaatkan sebagai pertimbangan menentukan pola belajar dan pola asuh. Saat memasuki usia remaja, STIFIn kerap dijadikan salah satu acuan memilih jurusan pendidikan hingga arah karier. Sementara pada usia dewasa, konsultasi lebih banyak berkaitan dengan hubungan pasangan, kepemimpinan, maupun pengembangan usaha.
Menurut Kican, tidak sedikit pula peserta lanjut usia yang mengikuti tes STIFIn sebagai bekal menjalani masa pensiun. Mereka ingin mengetahui kecenderungan dirinya agar tetap aktif dan menikmati aktivitas yang sesuai.
Baca Juga: Dukung Tumbuh Kembang Bayi dengan Memberikan ASI Eksklusif 6 Bulan
“STIFIn bukan alat untuk menentukan masa depan seseorang. Lingkungan, pengalaman, dan usaha tetap menjadi faktor utama. Kami hanya membantu memetakan kecenderungan dasarnya,” tegasnya.
Meski semakin dikenal masyarakat, STIFIn masih menjadi topik yang terus didiskusikan di kalangan akademisi maupun praktisi. Kican mengakui bahwa bukti ilmiah mengenai STIFIn saat ini masih didominasi penelitian internal, sementara publikasi pada jurnal ilmiah internasional terus berkembang. Ia menam bahkan, pengembangan konsep STIFIn juga dilakukan melalui kerja sama dengan Universitas Kebangsaan Malaysia.
Selain itu, menurutnya, sejumlah penelitian dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia telah mengkaji penerapan STIFIn pada bidang pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, hingga bidang lainnya. “Seperti pendekatan pengembangan diri lainnya, STIFIn memiliki pendukung sekaligus pihak yang mengkritisi. Karena itu, kajian ilmiah perlu terus dilakukan agar pengembangannya semakin kuat,” pungkasnya. (dil/adn)
Editor : A. Nugroho