MALANG, RADAR MALANG – Tren slow jogging atau lari santai mulai banyak diminati. Berbeda dengan lari berintensitas tinggi, olahraga ini dilakukan dengan tempo pelan sehingga lebih nyaman, tidak cepat menguras tenaga, dan dinilai lebih aman bagi tubuh.
Metode slow jogging dikembangkan oleh Profesor Hiroaki Tanaka dari Fukuoka University, Jepang. Kecepatan larinya sekitar 3–5 kilometer per jam atau cukup pelan sehingga pelakunya masih dapat berbincang tanpa kehabisan napas. Fokus utamanya bukan mengejar kecepatan, melainkan membangun kebiasaan berolahraga secara konsisten.
Karena dilakukan dengan intensitas rendah, slow jogging memberikan beban benturan yang lebih kecil pada lutut dan pergelangan kaki. Hal itu membuat olahraga ini cocok dilakukan oleh pemula, lansia, maupun orang yang memiliki kondisi persendian yang lebih sensitif. Latihan ini juga dinilai mampu mengurangi risiko cedera dibandingkan lari dengan intensitas tinggi.
Baca Juga: Komunitas Lari Mulai Diminati Warga Malang, Jadi Tren Baru Gaya Hidup Sehat
Sementara itu, aktivitas aerobik berintensitas rendah seperti slow jogging tetap efektif meningkatkan kebugaran. Latihan ini membantu menjaga kesehatan jantung dan paru-paru, sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh.
Selain itu, slow jogging juga berkontribusi menjaga kesehatan tulang, otot, dan sendi. Intensitasnya yang rendah membuat tubuh lebih banyak memanfaatkan lemak sebagai sumber energi dibandingkan cadangan karbohidrat.
Karena bisa dilakukan sambil mengobrol dan tidak membutuhkan kemampuan khusus, slow jogging kini menjadi alternatif olahraga yang praktis untuk menjaga kebugaran dan kesehatan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Cari Tempat Jogging di Malang? Ini Rekomendasi Spot Favorit Warga untuk Olahraga Pagi
Editor : Aditya NovrianSumber : dikelola dari beberapa sumber