Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

MPLS, 32 Pelajar SLB C Kedungkandang Ikuti Simulasi Gempa

N
Penulis: Nabila Amelia❯
ANTUSIAS: Pelajar SLB C Autis Kedungkandang mengikuti simulasi bencana gempa bumi, kemarin. Simulasi itu menjadi bagian dari kegiatan MPLS. (Darmono/Radar Malang)
ANTUSIAS: Pelajar SLB C Autis Kedungkandang mengikuti simulasi bencana gempa bumi, kemarin. Simulasi itu menjadi bagian dari kegiatan MPLS. (Darmono/Radar Malang)

Advertisement

MALANG KOTA, RADAR MALANG - Sebanyak 32 pelajar di SLB C Autis Kedungkandang mengikuti simulasi gempa bumi, kemarin (15/7). Simulasi tersebut dipimpin langsung oleh Yusfan, salah satu instruktur dari Search and Rescue (SAR) Trenggana. Simulasi juga dilakukan dengan bantuan para guru.

Sebelum melakukan simulasi, para pelajar terlebih dulu mendapatkan materi. Mulai dari cara mengenali tanda bahaya, melindungi diri, hingga evakuasi. Menurut Kepala SLB C Autis Kedungkandang Ade Dian Firdiana, pihaknya rutin menggelar simulasi terkait bencana yang berpotensi terjadi di Kota Malang. 

Salah satunya gempa bumi. Kemarin, simulasi gempa bumi juga digelar dalam rangka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). ”Kami berikan contoh dan simulasi secara berulang. Kalau tidak demikian, kemungkinan mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana,” ucap Ade. 

Advertisement

Terlebih lagi, puluhan pelajar yang mengikuti simulasi adalah anak-anak dengan kondisi hambatan intelektual dan autisme. Selain berulang, simulasi harus diperagakan sejelas mungkin. Sebab, para pelajar dengan kondisi khusus itu membutuhkan visualisasi yang jelas tentang kondisi bencana.

Yusfan, instruktur dari SAR Trenggana menjelaskan bahwa salah satu simulasi yang disampaikan yakni upaya berlindung di bawah meja jika terjadi gempa.

Kemudian para pelajar diajak untuk evakuasi ke luar gedung sekolah sembari membawa kursi untuk melindungi bagian kepala mereka.

Advertisement

”Responsnya bagus dari adik-adik selama simulasi. Untuk pemberian pemahaman memang harus kami lakukan secara berulang,” kata Yusfan.

Di samping itu, dia mengatakan bahwa simulasi gempa terhadap para pelajar dengan kondisi khusus tidak bisa dilakukan dalam satu momentum saja.

Jika ada waktu luang, para guru bisa menyisipkan edukasi mengenai simulasi itu lagi. ”Dengan demikian, mereka bisa menghafal bahkan di alam bawah sadar,” sambung Yusfan.

Dia menambahkan, kejadian bencana bukan sesuatu yang terjadwal. Sementara guru maupun orang lain tidak bisa selalu mendampingi para pelajar SLB. ”Karena itu mereka juga harus diajarkan untuk bisa melakukan evakuasi secara mandiri,” imbuh dia. (mel/by)

Advertisement

Artikel Terkait

Jadi Plh Kepala SMPN 18 Malang, Risna Widyawati Siapkan Trauma Healing untuk Siswa

Jadi Plh Kepala SMPN 18 Malang, Risna Widyawati Siapkan Trauma Healing untuk Siswa

Risna Widyawati mulai bertugas sebagai Plh Kepala SMPN 18 Kota Malang. Tiga prioritas disiapkan, termasuk trauma healing dan pemulihan siswa.

Dugaan Kekerasan terhadap Siswa SMPN 18 Kota Malang, Disdikbud Copot Kepala Sekolah Mulai Hari Ini

Dugaan Kekerasan terhadap Siswa SMPN 18 Kota Malang, Disdikbud Copot Kepala Sekolah Mulai Hari Ini

Disdikbud Kota Malang menarik kepala sekolah salah satu SMP negeri menyusul dugaan kekerasan. Kepala sekolah sementara dijadwalkan bertugas Senin.

Kolaborasi dengan Kampus, SMAK Kosayu Gelar Expo Perguruan Tinggi

Kolaborasi dengan Kampus, SMAK Kosayu Gelar Expo Perguruan Tinggi

SMAK Kosayu Malang menggelar Expo Perguruan Tinggi ke-28 pada 4-5 September 2026, menghadirkan 74 perguruan tinggi dan diikuti oleh 1292 siswa dari SMA se-Kota Malang.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer