Aksi petani Batu yang menghancurkan hasil panenannya itu, dalam beberapa hari ini viral di jagat maya sosial media.
Salah satu petani, Gatot Sudarto, 35, mengatakan adanya video tersebut memang betul. Bahkan dirinya juga melakukan hal tersebut lantaran harga sayur-mayur yang saat ini jatuh.
"Kalau saya mbabati supaya segera cepat ditanam lagi. Menunggu tengkulak yang harganya sesuai nanti kelamaan," kata Gatot, Kamis (27/8).
Gatot sendiri memiliki lahan pertanian di daerahnya Dusun Wonorejo, Desa Tulungrejo seluas 3 hektare dengan ditanami sawi putih.
Dia tidak menjual semua hasil panennya karena harganya yang rendah yakni Rp 300 rupiah per kilogram. Lebih lanjut, dia mengungkapkan kondisi tersebut tidak hanya dirasakan oleh petani di dusunnya. Tetapi juga dari Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, dan pertanian di Desa Sumberbrantas.
"Di dusun saya itu ada 200 petani dengan total luas pertanian sekitar 40 hektare, sedangkan yang merasakan dampak selain petani sawi juga petani wortel dan kubis juga," terang dia.
Gatot dan petani sayur mayor lainnya hanya berharap kepada pemerintah untuk membantu adanya bantuan sarana produksi (saprodi) seperti pupuk dan obat semprot seperti pestisida. Sebab dalam mengelola lahannya selama masa tanam dua bulan, dirinya menghabiskan modal sekitar Rp 100 juta.
"Nggak nutut untuk balik modal aja, kembali hanya Rp 10 juta (ada beberapa laku terjual). Saya juga punya tanggungan (utang) di salah satu koperasi," kata dia.
[video width="320" height="176" mp4="https://static.promediateknologi.id/crop/0x0:0x0/750x500/photo/radarmalang/2020/08/WhatsApp-Video-2020-08-27-at-18.47.28-convert-video-online.com_.mp4"][/video]
EMOSI: Aksi petani sayur mayur di Kota Batu yang menghancurkan hasil panenannya karena harga anjlok. (Video: Gatot Sudarto for Radar Batu)
Pewarta: Nugraha Perdana Editor : Editor : Hendarmono Al S.