Ketua Koperasi Margo Makmur Mandiri, Muhammad Munir (50) mengatakan awalnya penduduk Dusun Brau bermata pencaharian utama sebagai petani. Tetapi pada tahun 2000 mulai terjadi perubahan sosial dengan beternak sapi perah. "Jadi menggunakan sistem gaduh, ada orang luar desa yang menitipkan sapi kepada warga, lalu berbagi keuntungan berupa anak sapi menjadi hak milik warga yang dititipi tadi, begitu seterusnya," katanya. Saat ini ada total sekitar 700 sapi perah jenis Fresh Holland di daerah itu dengan jumlah penduduk hanya 400 jiwa.
Menurutnya, memelihara sapi perah berbeda dengan sapi pedaging. Sebab untuk sapi perah dapat menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan. Sedangkan sapi pedaging membutuhkan waktu lama hingga dua sampai tiga tahun hingga layak untuk dipotong. "Nah warga ini lebih senang sapi perah karena ambil uangnya setiap tiga kali dalam sebulan," katanya.
Setiap keluarga rata-rata minimal memiliki lima sapi dan setiap sapi dapat menghasilkan 12 liter susu dalam sehari. Lalu saat ini harga jual susu sapi Rp 5500 per liter. "Mungkin dalam sebulan setiap keluarga penghasilannya bisa sampai Rp 5 juta, itu sudah dipotong dengan biaya operasional," katanya.
Pada tahun 2014 untuk pertama kalinya Koperasi Margo Makmur Mandiri mendapatkan bantuan alat produksi dari pemerintah. Yakni mesin pendingin susu dari Kementerian Perindustrian. Lalu satu tahun berselang pada tahun 2015 juga mendapatkan bantuan yang sama dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI.
"Jadi mesin pendingin ada dua alat, yang sayu berkapasitas 2.700 liter dan satu lagi 3.200 liter," katanya. Selanjutnya, pada tahun 2017 dari Pemkot Batu memberikan bantuan alat pengolahan konsetrat dengan kapasitas mencapai dua ton.
Kini produksi susu di Dusun Baru dapat berjalan optimal. Untuk pakan para peternak menanam rumput gajah di lahan sekitar. Lalu untuk konsetrat membuat secara mandiri, dengan bahan-bahan seperti bekatul, kulit kopi, tetes tebu, kulit kacang dan lainnya. Dengan setiap kilogram konsentrat dihargai Rp 3000.
"Jadi itu rata-rata setiap ekor sapi membutuhkan konsentrat sebanyak 7 Kg dalam sehari. Nah setiap peternak biasanya mengambil dua kali dalam 10 hari untuk konsentrat sesuai kebutuhan," katanya.
Produksi susu setiap harinya dikirim ke salah satu perusahaan susu terbesar di Jawa Timur, sebanyak 4.900 liter. Bahkan untuk operasional kendaraan pengiriman, Koperasi Margo Makmur Mandiri memiliki satu truk tangki. Sedangkan untuk 100 liter lainnya biasanya dikirim ke tempat usaha makanan dan minuman yang ada di Malang Raya. "Misal kedai usaha STMJ, kalau hari Minggu kirim ke Bali itu PT Gioia Cheese Indonesia semacam pabrik keju," katanya.
Sebenarnya untuk Wisata Edukasi Susu Sapi Perah sudah direncanakan sejak Wali Kota Batu sebelumnya yakni Eddy Rumpoko. Hanya saja baru dilaunching beberapa waktu yang lalu. Namun sampai saat ini diakui Munir, belum bisa berjalan maksimal karena adanya pandemi Covid-19. Terakhir pada tahun 2019 lalu, pihaknya selama satu tahun hanya kedatangan empat kali kunjungan rombongan wisatawan.
"Wisata edukasi yang dimaksud ini mulai dari pengenalan apa itu susu, lalu cara pengolahannya, tentu dari awal seperti memelihara sapi itu seperti apa, memerahnya, membuat pakan ternak juga," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Arief As Shiddiq mengatakan, menjadi kampung edukasi wisata ini tentunya sudah menjadi cita-cita warga Brau, dan Disparta memberikan dukungan penuh untuk hal tersebut. Nantinya, dia melanjutkan, akan siapkan beberapa program untuk pengembangan SDM dan potensi destinasi sesuai dngan arahan Wali Kota Batu.
“Dan yang pasti kami juga akan mendukung di bidang promosi dan publikasi, agar wisata edukasi di Brau ini dikenal nusantara bahkan mancanegera,” pungkasnya.
Pewarta: Nugraha Editor : Shuvia Rahma