”Sangat menurun dibandingkan sebelum pandemi. Sekarang pembeli belinya hanya sedikit-sedikit,” ujar pemilik usaha keripik apel, Hendika Wichaksana, kemarin (5/1). Menurut dia, fenomena tersebut lantaran toko oleh-oleh yang menjadi langganannya tak mau menimbun barang terlalu banyak. Kondisi sepinya pelancong menjadi alasannya.
Omzet yang didapatkannya pun jatuh dari kata normal kini. ”Dulu dalam sehari bisa mendapatkan laba Rp 3,5 jutaan, tapi sekarang turun lebih dari 60 persen,” imbuhnya. Hendika–sapaan akrabnya– yang biasa mengirim 1 ton keripik apel per tiga bulan, sekarang frekuensinya harus jauh menurun. Dalam seminggunya dia bisa menjual satu kuintal saja.
”Bagaimana lagi, produksi harus tetap jalan karena ada karyawan juga,” katanya. Setiap harinya ada 50 kilogram keripik apel yang diproduksi. Dengan jumlah permintaan yang rendah, terpaksa dia harus menimbun beberapa kilogram olahannya.
”Waktu pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pernah nimbun sampai 1,5 ton. Untungnya keripik ini kan kalau sudah di kemasan bisa tahan hingga satu tahun,” jelasnya. Harga olahan apel ini mencapai kisaran Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu setiap satu kilonya tergantung dari kualitas yang telah disortir. Bahan baku apel yang digunakan adalah apel jenis manalagi. Jenis tersebut digunakan karena teksturnya yang keras membuat keripik terasa renyah saat sudah digoreng.
Pewarta: Wildan Agta Affirdausy
Editor : Ahmad Yani