Sebanyak 20 orang, terutama ibu-ibu ikut ambil bagian membuat batik yang diharapkan bisa menjadi ikon kelurahan tersebut. Mereka membuat batik dengan menggunakan teknik jumput dan lipat. ”Kegiatan membuat batik ini bertujuan untuk membangkitkan ekonomi masyarakat di tengah pandemi Covid-19,” beber Lurah Ngaglik Edwin Yogaspatra Harahap.
Ia menceritakan, keberadaan kekompok usaha itu diawali dengan pelatihan batik bulan November 2020. "Sebelumnya kami cari potensi warga yang benar-benar mau niat ikut pelatihan tersebut, jadi ada keberlanjutan sebagai kelompok usaha," katanya.
Untuk mencari ciri khas Ngaglik, tercetus ide membuat batik Kembang Tanjung. Hal itu terinsipirasi dari pohon tanjung yang tumbuh di sekitar sumber mata air di Kelurahan Ngaglik. Sejak dua bulan ini, mereka telah memproduksi batik tersebut. "Dalam satu minggu bisa memproduksi 20 kain batik dengan ukuran untuk kebutuhan kemeja lengan panjang," katanya.
Selain itu, mereka juga membuat kaos dan masker dengan motif batik Kembang Tanjung. Untuk pemasarannya masih dibantu oleh PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu) Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Batu. "Modal awal karena kelurahan ini bukan desa yang bisa mengembangkan BUMDes, maka kami arahkan ke peminjaman modal di bank senilai Rp 20 juta," katanya.
Diakuinya kelompok usaha tersebut mulai banyak menerima pesanan. Sehingga ke depan pihaknya bakal membuat workshop batik jumput dan lipat. Terkait omzet, Edwin belum bisa membeberkannya. "Jujur saja ini masih proses pengembangan, jadi masih banyak yang harus ditata ke depannya," katanya.
Pewarta : Nugraha Perdana
Editor : Ahmad Yani