Yulia, salah satu pedagang bawang putih di Pasar Besar Batu, mengakui bawang putih lokal masih menjadi ’tamu’ di daerah sendiri. ”Saya beli 10 kilogram bawang putih lokal untuk dijual lagi, sehari belum tentu laku. Tapi kalau beli yang impor sampai 50 kilogram, pasti laku semua,” ujarnya kemarin (21/3).
Padahal, Yulia melanjutkan, dia yakin kualitas bawang putih lokal tidak kalah jika dibandingkan dengan bawang putih impor. Menurut dia, perbedaan hanya pada ukuran, yakni bawang putih impor lebih besar ketimbang lokal. ”Cuma ukurannya yang kalah. Dari rasa dan aroma sebenarnya hasil bumi kita lebih baik,” terangnya.
Mengingat tingginya permintaan bawang putih impor, Yulia dan beberapa petani lain sudah berusaha menanam bawang putih impor. Namun, hasil yang didapatkan nihil. Bahkan, berbuah saja tidak. ”Kalau di Jepang atau Tiongkok, hasilnya bisa bagus karena ada musim salju. Tanahnya pun berbeda,” katanya.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kota Batu Sugeng Pramono mengatakan, pihaknya selalu mengupayakan membantu petani bawang putih lokal. Ketika bawang putih lokal sering mengalami kelangkaan dulu, pihaknya menambah luas lahan bawang putih. ”Kami selalu mendukung petani. Jangan sampai tidak ada yang menanam bawang putih. Tapi, jumlah permintaan pasar kan dari masyarakat sendiri, mereka lebih suka yang mudah diolah,” tutur Sugeng.
Sesuai data Dinas Pertanian Kota Batu, puncak kejayaan bawang putih di Kota Batu terjadi pada 2012 lalu. Saat itu ada 71 hektare lahan dengan hasil panen 6.613 kuintal. Namun, penurunan di tahun-tahun berikutnya terus terjadi. Tahun 2013 lahan menyusut menjadi 45 hektare dengan hasil panen 4.134 kuintal. Tahun 2014 terdapat 30 hektare lahan dengan 3.027 kuintal hasil panen. Tahun 2015 lahan kembali menyusut dan hanya tersisa 22 hektare dengan 2.226 kuintal hasil panen.
Pada tahun 2016 berusaha dinaikkan sehingga menjadi 41 hektare lahan penanam bawang putih dengan hasil panen 3.884 kuintal. Pada tahun 2017 ada 31 hektare lahan dan 3.013 kuintal hasil panen. Kemudian tahun 2018 lalu lahan susut lagi jadi 22 hektare dengan hasil panen 1.857 kuintal. Tahun 2019 naik lagi menjadi 44 hektare dan hasil panen 4.080 kuintal. Pada tahun 2020 luas bertambah lagi menjadi 72 hektare lahan dengan 6.696 kuintal hasil panen.
Selain menambah luas lahan, Dinas Pertanian Kota Batu juga membantu pemasaran. Yakni melalui kerja sama Bank Indonesia (BI). BI langsung meneken kerja sama dengan beberapa kelompok tani (poktan) di Kota Wisata ini.
Selain itu, mereka juga melakukan support dengan saprodi. Saprodi adalah bantuan dari dinas pertanian yang berupa pupuk, bibit, atau alat penunjang lain. ”Kami selalu support. Jika ada penurunan, itu memang karena permintaan masyarakat sendiri. Semoga Batu bisa menjadi pusat bawang putih seperti dulu,” katanya. (rmc/wil/c1/dan)
Editor : Ahmad Yani