Lurah Sisir Muhammad Viata Aria Pranaka menjelaskan jika prepegan ini adalah spirit mempertahankan pasar tradisional di mana keberadaannya yang bersaing dengan pasar modern. “Prepegan adalah istilah yang dulu biasa digunakan pada saat menjelang Hari Raya Idul Fitri masyarakat beramai-ramai ke pasar tradisional untuk mempersiapkan kebutuhan Lebaran,” katanya.
Dia menjelaskan jika latar belakang acara ini adalah untuk pemulihan ekonomi masyarakat pasca pandemi serta berfokus untuk peningkatan kualitas UMKM warga Kelurahan Sisir.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Festival Prepegan Rera Purmatasari mengatakan acara ini berlangsung selama tiga hari. “Kemarin yang tanggal 17 itu pembukaan yakni pemotongan tumpeng, dan di tanggal 18 ini ada pelatihan dan beberapa pemateri serta di tanggal 19 ada bazar,” jelasnya. Pada Kamis (18/5) pagi ada warga dilatih untuk membuat batik dari karya eco-print.
Yakni membuat pola batik dengan berbagai macam-macam daun. “Dari awal hingga proses mewarnai kain,” kata Rera. Selain itu, di RW 13 dulunya terkenal sebagai penghasil tape, sehingga untuk mengangkat nilai-nilai yang ada di wilayah itu mereka bersama-sama membuat "nape legit".
Lalu di malam ini (18/5) kita disediakan sekitar 300 kupon makanan gratis kepada pengunjung. Jumlah stan yang disediakan sejumlah 13 unit. Selain makanan, ada juga warga yang menjual produk kerajinan tangan. ”Ada tas rajut, batik eco print tadi, serta, tas anyaman dan sebagainya,” tuturnya. (iza/lid). Editor : Kholid Amrullah