BATU - Pembangunan Pasar Unggas dan selep daging di belakang Pasar Sayur Jalan Dewi Sartika Kota Batu mulai dilaksanakan. Namun, warga sekitar justru was-was dengan adanya pembangunan pasar tersebut. Terutama mengenai arah saluran pembuangannya.
Salah satu warga RT 4, RW 9 Kelurahan Temas Eti Widayawati mengatakan, wacana pembangunan pasar unggas dan selep daging memang sudah terdengar sejak lama. Akan tetapi, baru terealisasi beberapa minggu ini.
"Sebenarnya warga ya tidak semuanya setuju ada pasar unggas dan selep daging di sini. Karena, saluran pembuangan air daging pasti bau," jelasnya.
Menurut Eti, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu harus memikirkan saluran pembuangannya dengan tepat. Pasalnya, di wilayah RT 4, RW 9 ada curah sungai yang buntu (tak pernah ada airnya).
"Jika air sisa pemotongan unggas hidup (ayam) lalu selep daging dibuang ke curah. Otomatis baunya mengganggu kenyamanan warga," terangnya.
Sementara itu, warga lainnya bernama Kasnan menuturkan, selain saluran air pembuangan, Pemkot Batu juga harus memperhatikan kenyamanan masyarakat terkait bau bising mesin selep. "Biasanya beroperasinya selep daging mulai jam 3 sampai 10 pagi. Kalau momen Idul Adha, selep daging bisa sampai Magrib," tuturnya sambil mengupas kulit kelapa ini.
Menurutnya, penjual selep daging yang menempati pasar diharapkan memiliki peredam suara bising. "Paling tidak penjual selep daging ikut peduli dengan kenyamanan masyarakat," tutur Kasnan.
Sementara itu, informasinya Pasar Unggas dan selep daging ini akan dibangun lantai 1 dan 2 selama 90 hari kerja. Untuk sumber dananya dari APBD tahun 2023 senilai Rp 945 juta. (ifa/lid).
Editor : Kholid Amrullah