Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Monumen TMP Suropati Kota Batu, Jejak Seni Pejuang Hizbullah dari Kelurahan Sisir

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Kamis, 17 Agustus 2023 | 20:00 WIB

 

 

Patung di TMP Suropati, Kota Batu terinspirasi peristiwa penyobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya, 19 September 1945.
Patung di TMP Suropati, Kota Batu terinspirasi peristiwa penyobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya, 19 September 1945.

BATU - Patung di monumen perjuangan Taman Makam Pahlawan (TMP) Suropati merupakan karya warga Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu. ”Patung tersebut karya almarhum Iksan Sulianto. Beliau adalah pejuang Hizbullah asli Kelurahan Sisir,” terang Pemerhati Sejarah dan Pemangku Pesantren Rakyat, Kota Batu Ulul Azmi.

Patung yang diresmikan pada 10 Agustus 1976 itu bukan satu-satunya karya Iksan. Pada 1969, dia juga membuat Monumen Bambu Runcing di Kecamatan Pujon. Karya terakhirnya yakni Monumen Hamid Rusdi di Kota Malang, yang dibuat pada 1991.

Azmi menambahkan, setelah kemerdekaan RI, Iksan Sulianto sempat melanjutkan kariernya di TNI-AD. ”Pangkat terakhir Sersan Kepala,” terangnya. Sepengetahuannya, patung di TMP Suropati terinspirasi peristiwa penyobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya, 19 September 1945.

Karena itu ada ornamen bendera Belanda yang tersobek di warna biru. Sebagai informasi, di TMP Suropati Kota Batu sebelumnya ada 212 makam pejuang. Tahun ini ada penambahan dua makam. Untuk menjaga kondisi TMP dan monumen, Pemkot Batu rutin melakukan perawatan. ”Pembersihan monumen dari debu biasanya juga melibatkan pemadam kebakaran,” kata Juru Kunci TMP Suropati, Kota Batu Subakri Madekur.

Ketua DPC Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Batu Hendri Isriawan menambahkan, dulu makam pejuang banyak yang ditempatkan di Jalan Karate, Kelurahan Ngaglik. ”Tapi, sebagian akhirnya dipindahkan ke TMP (Suropati) agar lebih tertata dengan baik,” kata dia. Makam para pejuang di TMP Suropati banyak yang tidak ada namanya. ”Ya, mereka itulah yang benar-benar pejuang. Namun, beberapa ada yang dimakamkan di luar TMP juga,” imbuhnya.

Dia menceritakan, pada 30 Juli 1947 silam, keadaan Kota Malang benar-benar sepi karena sebagian besar penduduknya telah mengungsi ke luar daerah. Saat itu, Kota Malang terkenal dengan peristiwa Malang Bumi Hangus, yakni aksi membakar gedung-gedung penting agar tak dikuasai kembali oleh Belanda. Sementara di Kota Batu fokus perlawanan dilakukan secara gerilya (sembunyi-sembunyi).

Waktu itu pasukan Belanda telah menduduki Singosari dan hendak mencapai wilayah Kecamatan Blimbing. ”Untuk menyerang Kota Malang, Belanda diperkirakan akan menggunakan dua jurusan. Yaitu Singosari dan Batu,” tuturnya.

Hendri menjelaskan, pasukan pejuang yang ada di Kota Batu berjaga sampai perbatasan Pujon. Banyak petani, pedagang, dan warga yang bergerak bersama untuk mempertahankan kemerdekaan. ”Sejak dulu, Belanda memang mengincar Malang hingga Batu. Saat itu Batu juga sudah menjadi jujukan wisata orang Belanda di akhir pekan,” imbuh Hendri.

Saksi-saksi perjuangan itu lah yang kini menjadi veteran perang dari Kota Batu. Hendri menerangkan, dulu ada 1.000 orang yang menjadi veteran. Saat ini jumlahnya ada 29 orang. ”Jumlah veteran 45 atau proklamasi saja hanya 7 orang,” kata dia.

Selain veteran 45, masih ada veteran Trikora (pembebasan Irian Barat) tahun 1963-1964. Juga ada veteran Dwikora 1964-1966. Kemudian veteran Seroja yang memperjuangkan Timor Leste pada Mei 1975 hingga Juli 1976. ”Sekarang saya berharap generasi muda bisa mempertahankan kemerdekaan dan melanjutkan perjuangan,” pesan dia. (ifa/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#monumen #tmp suropati batu