BATU - Tidak banyak yang tahu, di Dusun Tomomerto, Desa Pesanggrahan, Kota Batu terdapat tradisi pernikahan yang unik. Yaitu, setiap orang tua wajib menyiapkan rumah dan sapi kepada anaknya yang menikah dan menetap di kampung yang berada di lereng Gunung Panderman tersebut.
Pernikahan merupakan momen sakral. Tak hanya menyatukan dua insan, tetapi juga dua keluarga serta adat istiadatnya. Hal itu pula yang terjadi di Toyomerto. Para orang tua yang akan menikahkan anaknya harus menyediakan rumah, sapi, bahkan kendaraan.
Salah seorang warga Sudarji mengatakan, bagi anak yang menikah, dalam waktu kurang dari satu tahun sudah dibuatkan rumah dan diberi sapi untuk menunjang ekonomi sang anak. "Kebetulan saya memiliki tiga anak. Jadi saat muda, saya sudah merencanakan dengan istri tentang ketiga anak tersebut akan dibuatkan rumah di mana," jelasnya.
Sudarji melanjutkan, ketika akan menikah anak-anak akan ditanya akan menetap di mana. Kalau para anak memutuskan untuk tinggal di Toyomerto maka mereka akan dibuatkan rumah. Kalau mereka tidak tinggal di Toyomerto, maka tidak akan dibuatkan rumah. "Ini merupakan adat kami. Jadi kami tidak mewajibkan pada para besan yang berasal dari luar Toyomerto," ungkapnya.
Jika kedua keluarga sama-sama berasal dari Toyomerto maka biaya pembangunan rumah akan ditanggung bersama. Tetapi jika salah satunya berasal dari luar Toyomerto tidak ada kewajiban. Sementara itu, masing-masing keluarga akan memberikan sapi dan kendaraan sesuai dengan kemampuannya. "Di beberapa kesempatan, kalau misalnya sang anak belum mampu untuk mengisi perabotan rumah, maka orang tua yang turun tangan untuk mengisinya," ungkap dia.
Kepala Dusun Toyomerto Yatemo membenarkan adanya adat tersebut. Ia mengatakan, pekerjaan dengan nilai ekonomi tertinggi di Toyomerto adalah peternak sapi. Sebagian warga desa juga mengikuti tradisi itu. Oleh karena itu orang tua mewariskan sapi dan membuatkan rumah saat sang anak menikah. "Anak pertama sudah saya buatkan rumah dan saya beri enam ekor sapi," jelas Yatemo.
Anak kedua yang telah menikah pada bulan Januari tahun ini rencananya juga akan segera dibuatkan rumah. Yatemo bercerita, kandang sapinya sudah penuh sesak. Karena itu tahun depan ia akan menjual beberapa sapi dan membangunkan rumah untuk anak keduanya. "Bersamaan dengan itu, saya juga akan memberikan sapi padanya," kata dia.
Yatemo kembali bercerita, pada awalnya kedua anaknya bekerja sebagai pegawai hotel. Namun, mereka merasa menjadi peternak sapi lebih menjanjikan. Oleh karena itu pemberian rumah dan sapi ini diharapkan akan membantu perekonomian mereka ke depannya. "Tidak ada perayaan atau penyerahan dalam tradisi ini. Si anak bisa kapan saja membawa sapi dan menempati rumahnya. Untungnya besan pertama saya juga turut membantu dalam pembuatan rumah," pungkasnya mengakhiri. (kj1/syifa)
Editor : Kholid Amrullah