Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Uniknya RW 3 Kelurahan Songgokerto Kota Batu, Mayoritas Warganya Jagoan Paralayang

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Kamis, 23 November 2023 | 23:00 WIB

 

 

SEDOT WISATAWAN:  Salah seorang pilot tandem paralayang landing di Lapangan Songgomaruto sambil membawa wisatawan, Selasa siang (21/11).
SEDOT WISATAWAN:  Salah seorang pilot tandem paralayang landing di Lapangan Songgomaruto sambil membawa wisatawan, Selasa siang (21/11).

Olahraga Paralayang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari warga RW 3 Kelurahan Songgokerto, Kota Batu. Perkampungan di dekat Lereng Gunung Banyak itu bahkan menjadi saksi bisu lahirnya atlet-atlet paralayang nasional maupun internasional.

SYIFA DZAHABIYYAH

JARUM jam hari itu (21/11) sudah menunjukkan pukul 10.00. Matahari pun bersinar sangat terang. Namun angin yang berembus di lereng Gunung Banyak terasa sangat sejuk. Dari tempat duduk salah satu warung di pinggir Lapangan Songgomaruto, terlihat para pilot tandem paralayang melayang di udara membawa para wisatawan. Beberapa menit kemudian, paralayang berwarna-warni itu turun ke lokasi landing.

Pemandangan semacam itu ibarat makanan sehari-hari bagi warga RW 3 Kelurahan Songgokerto. Sebab, lereng Gunung Banyak yang tak jauh dari kampung mereka telah digunakan sebagai lokasi olahraga paralayang sejak 1996. Tak terhitung perlombaan nasional maupun internasional yang sudah diselenggarakan di tempat itu

RW 3 Kelurahan Songgokerto memiliki 4 RT dan 290 KK. Mayoritas penduduknya bisa menerbangkan paralayang. Di sana juga terdapat 20 atlet paralayang dan 10 pilot tandem master untuk wisatawan. Sisanya menerbangkan paralayang untuk hobi.

Pilot tandem master paralayang Markus Heru Rusbiyanto memperkirakan 80 persen dari penduduk RW 3 bisa menerbangkan paralayang. Bahkan salah satu pemilik warung di dekat lokasi landing juga bisa melakukan olahraga yang terbilang ekstrem itu. Meski itu dilakukan hanya untuk bersenang-senang saja. 

Menurut Heru, Gunung Banyak dilirik para pegiat paralayang sejak 1992. Awalnya olahraga itu dibawa oleh Komunitas Pencinta Alam Kota Malang. Mereka sedang mencari tempat yang bisa digunakan sebagai tempat menerbangkan paralayang.

Yang pertama kali dicoba adalah Dusun Brau, Desa Gunungsari. Beberapa tahun berjalan, komunitas itu menilai lokasi di Dusun Brau kurang cocok. Mereka lantas mencoba tempat lain. Yakni kawasan wisata Payung. Namun kondisinya tidak jauh berbeda dengan du Dusun Brau.

Akhirnya, pada 1996, lokasi paralayang pindah ke puncak Gunung Banyak yang terletak di Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kota Batu, sebagai area lepas landas. Sementara area landing terletak di Lapangan Songgomaruto yang berlokasi di RW 3. ”Tahun 2000 diresmikan sebagai satu tempat paralayang oleh Federasi Aero Sport Indonesia,” terang Heru.

Semula, aktivitas olahraga paralayang itu hanya menjadi hiburan bagi warga RW 3. Hampir tiap hari mereka menikmati keindahan warna-warni parasut dan keterampilan para pilot paralayang berputar-putar di udara. Lama-kelamaan, warga mulai ambil bagian dalam aktivitas itu. Termasuk anak-anak yang bisa mendapatkan uang dengan membantu melipat parasut.

Heru yang kini sudah menjadi pilot master tandem juga mengawali kedekatan dengan olahraga paralayang dengan menjadi pelipat parasut atau paraboy. Awalnya dia melakukan itu untuk menambah uang saku. Saat mulai tertarik untuk mencoba terbang dengan paralayang, Heru menabung uang dari hasil melipat parasut itu. Kalau sudah terkumpul, uangnya digunakan untuk menyewa parasut.

”Waktu saya masih kelas 2 SD, tidak banyak yang punya parasut. Jadi jika ingin belajar harus menyewa dari teman. Sekali sewa tarifnya Rp 50.000. Nominal yang sangat besar untuk anak SMP kala itu,” ucap pria kelahiran 1976 tersebut.

Dengan menjadi paraboy, anak-anak RW3 terbiasa mengamati cara landing paralayang maupun membaca arah angin. Rata-rata juga penasaran untuk mencoba olahraga tersebut. Terutama saat berat badan mereka sudah memenuhi syarat.

”Masing-masing paralayang memiliki ukuran dan bobot minimal yang berbeda. Namun paralayang yang paling kecil minimal bobot pilotnya 40 kilogram," jelas pria asli Kelurahan Songgokerto itu. Sambil menunggu bobotnya mencapai lebih dari 40 kilogram, anak-anak bisanya memilih menjadi paraboy.

Hal yang sama juga dialami atlet paralayang Jatim Rika Wijayanti. Dia tertarik menjadi atlet karena sering melihat paralayang berlalu lalang di atas rumahnya. Apalagi, semasa kecil dia sudah sering mendengar cerita bahwa menjadi atlet bisa mudah keluar kota dan mendapatkan uang. 

Sejak kelas 1 SMP, perempuan yang kini berusia 27 tahun itu menjadi peliput parasut. Kemudian, setelah lulus SMA dia berlatih lebih serius di sekolah paralayang. Usaha itu tidak sia-sia. Hingga kini Rika telah mengantongi 72 medali kejuaraan nasional hingga internasional. Prestasi itu diraih sejak 2015 sampai 2023.

Tak hanya Rika, kedua kakaknya juga menjadi atlet paralayang. ”Saya dan kakak saya, Joni Efendi, sekarang jadi satu tim di provinsi,” ungkap bungsu dari 4 bersaudara tersebut.

Keinginan Rika dan dua kakaknya menjadi atlet paralayang juga mendapat dukungan dari sang ibu, Purwani Bawon. Dia memang sempat khawatir anak-anaknya mengalami insiden saat menerbangkan paralayang. Namun karena ketiga anaknya sangat menyukai olahraga tersebut, Purwani pun terus memberikan support.

Apalagi ketika Joni dan Rika mampu berkiprah di tingkat internasional. Kekhawatiran itu seolah tertutup dengan rasa bangga. ”Rasa khawatir tetap ada. Apalagi anak-anak saya pernah cedera saat perlombaan. Tapi saya tetap memberikan dukungan dan selalu mendoakan yang terbaik bagi mereka,” terang perempuan asli Desa Songgokerto tersebut.

Kebiasaan anak-anak Songgokerto menjadi pelipat parasut juga terus berlanjut. Saat ini terhitung ada 9 paraboy yang aktif. Salah satunya Rio Fajar. Siswa kelas 9 SMP itu belajar melipat sejak kelas 3 SD.  ”Dulu sering dimarahi karena salah melipat simpul. Itu berlangsung selama 2 tahun. Saat kelas 6 SD saya sudah mahir melipat dan tidak dimarahi lagi,” kata anak pertama dari 3 bersaudara itu.

Pada saat sepi aktivitas olahraga paralayang, Rio bisa mendapatkan uang sebesar Rp 50.000 per hari. Kalau dalam kondisi ramai bisa mendapat Rp 200.000. Rio juga sudah dua kali terbang menggunakan paralayang. Masih tersisa 38 kali percobaan terbang untuk mendapatkan lisensi. ”Saya juga ingin menjadi atlet profesional paralayang,” ucapnya. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Kota Batu #songgokerto #paralayang