Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Duka Nurul, Ibu Siswa SMPN 2 Batu yang Meninggal akibat Dikeroyok, Tak Ingin Keluarga Pelaku Datang ke Rumahnya

Fathoni Prakarsa Nanda • Selasa, 4 Juni 2024 | 17:40 WIB

 

MASIH TERPUKUL: Nurul (kanan) berbincang dengan Pj Wali Kota Batu Aries Agung Paewai di Rumah Sakit Hasta Brata Jumat lalu (31/5).
MASIH TERPUKUL: Nurul (kanan) berbincang dengan Pj Wali Kota Batu Aries Agung Paewai di Rumah Sakit Hasta Brata Jumat lalu (31/5).

PAKAIAN hitam yang dikenakan Nurul seolah menggambarkan begitu dalam duka yang terasa.

Dia tak pernah menyangka akan kehilangan RWK pada usia yang masih sangat belia.

Yakni 12 tahun.

”Bulan Juli nanti usianya genap 13 tahun,” ucapnya lirih.

Meski berduka, Nurul telaten menjabat satu per satu tangan para pelayat.

Termasuk menjawab setiap pertanyaan terkait kronologi kejadian sesungguhnya yang dialami RWK.

Di beberapa penggalan cerita, suaranya terdengar bergetar disertai linangan air mata.

Nurul ingat betul saat menganggap rintihan sakit dari bibir sang putra hanyalah sebuah candaan.

”Saya pikir biasa saja karena anaknya memang manja,” ucapnya.

Namun, setelah rintihan itu semakin kencang, seperti orang mengerang, Nurul mulai sadar bahwa RWK tengah menanggung rasa sakit yang amat parah.

Jumat pagi (31/5), sekitar pukul 06.00, sang putra mengeluhkan sakit dan pusing di kepala.  

Perempuan 33 tahun itu semakin panik kala RWK mengaku habis dikeroyok temannya.

”Aku habis ditempeleng AS,” gitu bilangnya.

Kepada sang ibu, RWK sempat bercerita terkait tugas yang menjadi alasan temannya itu murka.

Namun dia sudah tak bisa bicara panjang lebar.

Lebih banyak mengerang kesakitan.

Nurul mencoba memberinya obat paracetamol.

Tapi RWK malah muntah cairan berwarna agak hijau.

Kepanikan pun memuncak.

Nurul lantas meraih ponsel miliki RF, saudara kembar RWK, untuk menghubungi AS.

Nurul mengirim pesan dan bertanya apa yang sudah AS lakukan kepada anaknya.

Karena tak kunjung dibalas, dia kembali mengirim pesan bernada marah.

”Saya ancam akan menuntut jika terjadi apa-apa sama RWK,” ungkapnya.

Setelah itu Nurul bergegas membawa RWK yang sudah lemas ke Rumah Sakit Hasta Brata menggunakan ojek mobil online.

Dia berangkat sendiri lantaran suaminya masih panik.

Tak lama kemudian, ayah RWK menyusul menggunakan motor.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Nurul terus mengajak bicara putra sulungnya itu.

Dia meminta RWK tak tidur.

Sayangnya, kondisi RWK saat itu setengah sadar.

Masih bisa merespons, tapi tak banyak.

Saat tiba di rumah sakit, RWK langsung mendapat penanganan pertama di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Nurul juga sempat meminta dilakukan visum.

Sayang, yang dia terima justru kabar tak mengenakkan.

”Perawat bilang kalau anak saya sudah kritis,” ungkapnya.

Tentu hati Nurul semakin berkecamuk.

Dia pun memohon agar segala tindakan yang bisa menyelamatkan RWK segera dilakukan.

Dokter pun merencanakan tindakan operasi pukul 12.30.

Tapi, 10 menit setelah kesepakatan itu, RWK tak bisa bertahan lagi.

Nurul menceritakan, RWK sempat berontak setiap kali dilakukan tindakan.

Seperti pemasangan infus, selang, dan peralatan medis lain.

Itu membuatnya harus diikat di bagian tangan dan kakinya.

Sebab, RWK seharusnya tak boleh banyak gerak.

“Tangannya yang dipasang infus itu sampai dikasih papan. Sebab, dia berontak dan terus teriak sakit. Seperti mengingat rasa sakit saat dipukuli waktu itu,” jelasnya.

Setelah nyawa RWK tak tertolong, pihak rumah sakit dan kepolisian memberikan pertimbangan untuk dilakukan otopsi.

Nurul langsung mengiyakan tawaran tersebut.

Sementara suaminya yang sempat menolak.

Kondisi itu yang mengakibatkan jenazah RWK baru bisa dimakamkan pukul 23.00.

Sebab, sang suami baru sepakat sekitar pukul 17.00.

”Kami rundingan dulu dengan keluarga. Tapi kalau saya dari awal setuju otopsi. Sebab, saya nggak mau kasus ini berhenti begitu saja,” tegasnya.

Hingga sekarang Nurul mengatakan belum ada keluarga pelaku yang datang ke rumah duka untuk melayat dan menyampaikan permintaan maaf.

Kendati begitu, dia tak mengharap kehadiran mereka.

Bahkan, Nurul meminta agar keluarga pelaku tak berkunjung ke rumahnya.

”Maaf tidak akan mengembalikan anak saya,” ucapnya.

Meski begitu, Nurul tetap menyerahkan sepenuhnya hukuman untuk para pelaku kepada pihak yang berwajib.

Ia berharap pelaku mendapat hukuman yang setimpal.

”Kalau bagi saya tidak ada hukuman yang setimpal untuk sebuah nyawa,” ucapnya.

Nurul juga meluruskan bahwa saat kejadian pada Rabu (29/5) lalu, RWK pergi tanpa pamit.

Saat nenek RWK mencarinya, sang adik bilang kalau RWK pergi dengan teman-temannya.

Kabar bahwa Nurul mengantar RWK berangkat untuk kerja kelompok tidak benar.

“Yang saya antar itu saat kerja kelompok pada hari Sabtu (25/5) di Pandan. Dia memang kerja kelompok membuat video senam,” pungkasnya. (dre/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#pengeroyokan siswa smp #SMPN 2 kota batu