BATU - Realisasi inventasi di bidang konstruksi mengalami lonjakan signifikan sepanjang Januari-September lalu. Nilainya tembus Rp 399,4 miliar. Naik hampir tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun, di balik capaian itu Pemerintah Kota (Pemkot) Batu mulai khawatir terhadap penyusutan lahan hijau akibat ekspansi pembangunan.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Dyah Lies Tina mengatakan investasi terbesar berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yakni mencapai Rp 397,4 miliar sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) hanya Rp 2,06 miliar saja.
"Kenaikannya cukup signifikan dibanding tahun lalu yang hanya Rp 133 miliar," ujarnya
Lonjakan investasi itu didominasi sektor jasa konstruksi seperti real estate, pembangunan gedung hunian, dan perumahan. Pemandangan alam dan iklim sejuk Kota Batu menjadi magnet utama bagi pengembang untuk mem-bangun kawasan hunian dan properti.
Namun, Wali Kota Batu Nurochman mengingatkan bahwa geliat investasi konstruksi ibarat dua mata pisau. Di satu sisi mendorong pertumbuhan ekonomi dan menambah pendapatan daerah. Namun, di sisi lain mempersempit ruang terbuka hijau. "Kami harus membatasi agar investasi tidak sampai menggerus lahan produktif dan ruang hijau," ujarnya.
Pesatnya pembangunan juga diikuti praktik nakal pengembang. Beberapa proyek perumahan diketahui berjalan tanpa izin resmi dan sebagian dialihfungsikan menjadi homestay atau vila komersial. "Kami akan tertibkan karena merugikan pelaku usaha yang sudah patuh aturan," ujarnya. Dia juga tengah menyiapkan sanksi administratif hingga moratorium izin le baru bagi pengembang yang in melanggar ketentuan. Aturan itu akan diperkuat dalam Peraturan Daerah (Pertada) Pemberian Insentif dan Kemudahan Investasi yang saat ini sedang difinalisasi. Kebijakan itu diharapkan bisa menjadi penyeimbang tata wilayah kota yang berkelanjutan. (ori/dre/adv)
Editor : A. Nugroho