BATU - Pagelaran wayang kulit dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-24 Kota Batu Jumat (17/10) berbeda dari biasanya. Karena pagelaran kali ini menampilkan dua dalang. Yaitu Ki Minto Darsono dan Ki Thatit Kusuma Wibhatsu “Kedua dalang merupakan ayah dan anak yang berasal dari Kabupaten Tulungagung,” terang Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu Onny Ardianto.
Di atas panggung keduanya membawakan lakon yang berjudul Wahyu Makutharama. Dua dalang itu berdialog saling sahut menyahut sekaligus mengayunkan wayang.
Kisah yang dibawakan berkaitan dengan 8 sifat-sifat atau elemen di dunia yang harus dimiliki oleh seorang pimpinan. Yakni samudra jembar yang artinya bisa menerima berbagai hal. Selanjutnya Angin yang punya filosofi merata tanpa pilih-pilih, maksudnya memberikan yang terbaik bagi seluruh rakyatnya secara adil.
Dilanjutkan dengan matahari yang berarti memberi penerangan di siang hari. Rembulan mengartikan seorang pemimpin sebagai penerang di waktu malam. Selanjutnya, lintang sebagai penerang dalam tiap perbuatan.
Keenam, yakni bumi yang punya maksud semakin dipijak semakin menumbuhkan kemuliaan. Ketujuh pemimpin harus jadi geni (api) artinya pimpinan harus mempunyai kekuatan dan disegani. “Terakhir mendung sebagai pemimpin harus bersifat dinamis, mendengar masukan dan masyarakat,” imbuh Onny.
Ketua pelaksana HUT Ke-24 Kota Batu Agung Sedayu mengatakan ini tak hanya sekadar pertunjukan wayang biasa. Sebab ada rangkaian menarik di dalamnya. Mulai dari Persembahan Panembrama oleh Kelompok Kerja Guru (KKG), campursari oleh Sanggar Sekar Gadung, hingga tari dan Penampilan Macapat Idol.
“Tema yang diangkat dalam HUT Ke- 24 Kota Batu ini adalah Satukan Niat, Bangkitkan Semangat, Mbatu Sae” imbuhnya. Itu berorientasi pada tagline resmi Kota Batu, Sedoyo Sae yang mengandung arti semua baik.
Dia menambahkan, sepanjang perayaan HUT Kota Batu ada 33 kegiatan. Sejumlah 21 kegiatan telah terselenggara. Sisanya, 8 kegiatan di bulan Oktober dan 5 kegiatan di bulan November.
Agung mengatakan rangkaian kegiatan ini melibatkan ribuan orang. Itu berasal dari berbagai unsur mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha, seniman, pelajar, komunitas masyarakat, hingga relawan. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong dan cinta terhadap Kota Batu terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Sebelum pagelaran resmi dimulai, diawali dengan atur bulu bekti dari kepala desa dan lurah. Itu sebagai ungkapan syukur dan hormat kepada pemimpin. Hasil bumi dan ragam makanan yang dibawa juga langsung diambil oleh masyarakat yang hadir.
Dilanjutkan penyerahan gunungan dilakukan oleh Wali Kota Batu Nurochman kepada Ki Minto Darsono. Dalam sambutannya, dia menekankan pesan dalam kisah pewayangan yang ditampilkan bisa diserap. “Mari kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Nurochman. Dia menegaskan sebagai aparatur pemerintah sudah sepatutnya bisa bersinergi, berkolaborasi, berinovasi, dan mengabdi untuk Kota Batu.(dia/lid)
Editor : Kholid Amrullah