RADAR BATU – Nasib angkutan kota (angkot) di Kota Batu kian memprihatinkan. Dari total 356 unit, kini hanya 241 angkot yang masih aktif beroperasi. Sisanya sebanyak 115 unit, berhenti beroperasi tanpa kejelasan.
Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batu, Hari Juni Susanto, mengatakan penurunan jumlah armada aktif terjadi karena banyak pemilik tak sanggup menanggung biaya operasional, sementara jumlah penumpang terus menurun. “Sebelumnya hanya 100 yang tidak beroperasi. Se- karang bertambah lagi jadi 115 unit,” ujarnya.
Sepinya penumpang disebabkan pergeseran perilaku masyarakat yang kini lebih memilih kendaraan pribadi dan transportasi daring. Akibatnya, sejumlah angkot mangkrak. Bahkan sebagian dialihkan menjadi angkutan pelajar (apel) gratis.
Dishub berupaya mencari solusi agar moda transportasi konvensional ini tak mati suri. Salah satunya dengan menggandeng pihak ketiga untuk mengelola sistem operasional angkot. Selain itu, rencana peluncuran angkot feeder Trans Jatim disebut menjadi peluang untuk menghidupkan kembali trayek yang sepi.
“Jika Trans Jatim sudah berjalan, angkot bisa berfungsi sebagai feeder,”tegas Hari. Saat ini, trayek Batu–Selecta menjadi satu-satunya jalur yang masih cukup ramai. Padahal ada delapan trayek di wilayah ini, termasuk Batu– Songgoriti dan Batu–Landungsari.
Namun, kondisinya kini nyaris mati. Pendapatan sopir pun kian minim. Rata-rata mereka hanya mengantongi sekitar Rp100 ribu per hari, bahkan sering kurang dari itu. Operasional angkot pun semakin pendek yakni hanya sampai pukul 16.00 saja. Padahal sebelumnya bisa sampai larut malam. Lagi-lagi itu lantaran jumlah penumpang yang kian sedikit.
Hari tak menampik, tanpa langkah nyata revitalisasi transportasi publik, angkot bisa benar-benar tinggal sejarah di kota wisata ini. Dirinya berharap transportasi publik di Kota batu bisa saling terintegrasi seiring mengaspalnya Bus Trans Jatim nanti. (dia/dre)