Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Penjual Polo Pendem di Kota Batu Hadapi Peminat Tinggi, Bahan Baku Mulai Susah Dicari

A. Nugroho • Minggu, 7 Desember 2025 | 18:22 WIB
PEMINAT TINGGI: Dalam dua bulan terakhir, warga antusias membeli polo pendem sebagai camilan.
PEMINAT TINGGI: Dalam dua bulan terakhir, warga antusias membeli polo pendem sebagai camilan.

TINGGINYA minat masyarakat terhadap polo pendem rebus membuat usaha di sejumlah penjual semakin ramai. Namun, situasi itu dibarengi dengan naiknya harga dan terbatasnya pasokan umbi yang menjadi bahan baku utama.

Salah satu yang merasakan kondisi tersebut adalah Maulidya Puspita, pemilik Rebusan polo pendem Imam Bonjol di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu. Ia sudah berjualan rebusan sejak 2023. ”Awalnya hanya jual jagung, ubi, dan kacang rebus di dekat daerah wisata,” ujarnya.

Karena peminat rebusan tak pernah sepi, enam bulan lalu Maulidya menambah varian dagangannya. Ia mulai menyajikan lebih banyak jenis polo pendem dari sukun, pisang, kentang, hingga labu dan singkong.

”Total ada sepuluh varian rebusan yang bisa dipilih,” jelas perempuan asal Karangploso itu.

Harga yang ditawarkan tetap dibuat terjangkau agar pembeli leluasa memilih. Satu paket enam potong rebusan satu varian dibanderol Rp5 ribu, sementara campuran sepuluh potong dijual Rp10 ribu. Strategi itu membuat lapaknya semakin ramai, terutama beberapa bulan terakhir saat tren camilan sehat makin populer.

Namun, lonjakan permintaan membawa masalah baru. Maulidya mengaku mulai kesulitan mencari bahan baku.

SELALU DATANG KEMBALI: Seorang konsumen membeli polo pendem di lapak Maulidya Puspita kemarin.
SELALU DATANG KEMBALI: Seorang konsumen membeli polo pendem di lapak Maulidya Puspita kemarin.

”Umbi-unbian ini sudah susah dicari dan harganya naik,” keluhnya. Ia menyebut harga umbi yang sebelumnya sekitar Rp6 ribu per kilogram kini mencapai Rp10 ribu. Kenaikan terjadi pada hampir semua jenis, mulai ubi ungu, cilembu, sampai ubi madu.

Jagung manis juga mengalami kenaikan signifikan. Jika sebelumnya satu karung berisi 15 kilogram bisa dibeli Rp70 ribu, kini harganya berada di kisaran Rp100 ribu per karung. Meski tertekan kenaikan harga, Maulidya tetap harus membeli karena jagung dan berbagai umbi itu merupakan menu utama di tokonya.

Ia menduga kenaikan harga dipengaruhi kondisi cuaca yang tidak menentu sehingga pasokan berkurang. Meski begitu, ia bersyukur kualitas bahan di Batu masih relatif baik. ”Untungnya jualan di Batu, jadi kualitasnya masih bagus,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan pasokan dan permintaan yang terus naik, Maulidya berharap harga segera stabil. Baginya, selama masyarakat masih mencari rebusan hangat sebagai pilihan camilan sehat, ia akan tetap berusaha memenuhi kebutuhan pembeli meski bahan bakunya semakin sulit didapat. (ori/adn)

Editor : A. Nugroho
#peminat #malang #Polo Pendem