Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Gandeng Australia, BRIN Bongkar Karut-Marut Budidaya Pangan Pesisir

Rori Dinanda Bestari • Rabu, 10 Juni 2026 | 10:27 WIB
SINERGI: Penyerahan cinderamata kepada Principal Research Fellow School of Agriculture and Food Sustainability University of Queensland Dr Stephen Harper di BRMP Jestro Kota Batu pada Selasa (9/6).
SINERGI: Penyerahan cenderamata kepada Principal Research Fellow School of Agriculture and Food Sustainability University of Queensland Dr Stephen Harper di BRMP Jestro Kota Batu pada Selasa (9/6).

RADAR MALANG - Pembengkakan biaya produksi akibat degradasi kualitas tanah dan masifnya serangan hama di kawasan pesisir memicu lahirnya konsorsium riset lintas negara untuk merombak sistem budidaya pangan nasional.

Guna merumuskan formula pertanian berkelanjutan, lokakarya internasional berskala besar yang membedah ekosistem cabai, bawang merah, dan padi digelar di Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jeruk dan Buah Subtropika (Jestro) Kota Batu, selama tiga hari hingga Kamis besok (11/6).

Agenda strategis ini mempertemukan para peneliti top internasional untuk mengatasi ancaman krisis pangan di wilayah pesisir nusantara.

Kolaborasi sains ini melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), University of Queensland (UQ), Universitas Gadjah Mada (UGM), serta IPB University.

BACA JUGA: Debit Air di Sumber Darmi Desa Oro-Oro Ombo Turun 10 Liter Per Detik

Seluruh pembiayaan proyek disokong penuh lembaga donor Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR).

Fokus utama riset tertuju pada tiga komoditas hortikultura dan pangan yang selama ini menjadi motor penggerak inflasi.

Kepala Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Sayuran Haris Jayanti menegaskan inovasi teknologi merupakan kunci utama untuk mendongkrak kesejahteraan petani di wilayah pesisir.

Pengelolaan komoditas harus diarahkan pada aspek kesehatan tanaman demi menjaga produktivitas jangka panjang.

“Seluruh tim yang hadir diharapkan mampu memberikan rekomendasi konstruktif bagi pengembangan pertanian berkelanjutan," ujarnya. 

BACA JUGA: 59 Pemuda dari Tujuh Negara Adu Gagasan di Panggung IYC Al Izzah Kota Batu

Haris menambahkan luaran dari sinergi ini dibidik untuk memberikan dampak berantai yang luas. Petani tidak hanya didorong untuk meraup hasil panen yang melimpah secara kuantitas.

Konsumen di tingkat hilir juga harus mendapatkan kepastian akses untuk mengonsumsi cabai, bawang merah, dan padi yang berkualitas tinggi serta aman.

Urgensi riset inilah yang membuat skema pendanaan internasional mengalir deras ke tanah air. ACIAR Country Manager Indonesia Teddy Kristedi menyatakan komitmen penuhnya karena proyek ini menyentuh sektor yang sangat krusial.

“Hasil rumusan ini tidak boleh mandek sebagai dokumen akademik di perpustakaan. Tentunya kami mendukung penuh karena ini menjadi prioritas utama, salah satunya proyek ini, kami sangat tertarik memberikan pendanaan, ujar Teddy.

Apresiasi senada diungkapkan perwakilan akademisi global yang terlibat dalam riset berdurasi panjang tersebut. Principal Research Fellow School of Agriculture and Food Sustainability University of Queensland Dr Stephen Harper mengaku bangga bisa memimpin kemitraan ilmiah yang sejatinya telah dirajut sejak 2010 itu.

BACA JUGA: SPMB Kota Batu 2026: Salah Titik Lokasi Rumah Bisa Gagalkan Pendaftaran, Ini Pesan Kepala Sekolah 

Menurut Stephen, kendati Indonesia dan Australia memiliki perbedaan iklim yang mencolok, tantangan mendasar di sektor budidaya agraris tetap memiliki benang merah yang sama.

Fokus intervensi sains kini diarahkan pada penguatan mutu benih, mitigasi serangan virus, manajemen nutrisi, hingga restorasi ekosistem mikro lahan.

Kami juga berfokus pada kualitas tanah, termasuk penggunaan pola tanam bergilir (intercropping) untuk kesehatan lahan,” paparnya.

Di samping pembenahan aspek teknis pertanian, lokakarya ini juga menaruh perhatian khusus pada ancaman krisis regenerasi petani muda.

Penguatan kapasitas SDM lewat keterlibatan riset aktif dinilai menjadi fondasi mutlak untuk mengamankan keberlanjutan ekosistem pertanian di masa depan. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#BRIN #Pertanian #sayuran #sains #budidaya