Kepala Bidang Destinasi Disbudpar Jatim, Radiq Mulya Mahardika menyebut, pelatihan tersebut menjadi langkah responsif terhadap potensi ancaman bencana dan keselamatan di kawasan wisata. “Kami ingin teman-teman pengelola destinasi, desa wisata, hingga asosiasi memahami hal-hal yang harus dilakukan saat ada bencana atau kejadian darurat,” ujarnya di sela simulasi.
Pelatihan berlangsung selama tiga hari, mulai 12 hingga 14 Agustus. Peserta mendapat pembekalan dari sejumlah instansi teknis, di antaranya Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Pusat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jatim, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim.
HR Generalist Mikutopia Rizki Ramadhan Adi P menyebut, protokol keselamatan dari lembaga terkait penting diterapkan bersama oleh pelaku industri pariwisata. Koordinasi dengan BPBD juga rutin dilakukan untuk memperkuat kesiapsiagaan di kawasan wisata.
“Di Mikutopia, kami sudah menyiapkan fasilitas K3 dan melakukan mitigasi sebelum operasional dimulai,” ujarnya.
Pihaknya juga menyiagakan sekitar 30 titik alat pemadam api ringan (APAR), perlengkapan tandu darurat, serta dua titik ruang P3K yang dilengkapi peralatan dan obat-obatan di area pintu keluar dan tengah wahana.
Koordinasi dengan BMKG juga dilakukan, terutama saat terjadi cuaca ekstrem. Jika kondisi cuaca dinilai tidak memungkinkan, operasional beberapa wahana akan dipertimbangkan demi menghindari insiden yang tidak diinginkan.
Editor : Kholid Amrullah