Belum adanya vaksin Covid-19 bagi anak-anak seharusnya juga menjadi catatan bagi pemerintah. Utamanya dalam hal melindungi para generasi penerus bangsa tersebut. Pakar Epidemiologi Universitas Brawijaya Dr Holipah PhD menyebutkan, potensi carrier (pembawa) pada anak jauh lebih tinggi risikonya. ”Perlu ada perhatian ekstra dari orang tua karena biasanya Covid-19 pada anak akan muncul tanpa gejala dan mereka justru berpotensi menjadi sarana penularan,” kata Holipah. Menurut dia, keputusan untuk tetap memberlakukan kebijakan sekolah daring adalah keputusan tepat.
- Baca Juga : Paslon Ladub Siapkan Program Bersalin Gratis
Dosen Departemen Kesehatan Masyarakat itu menambahkan, jika melihat polanya saat ini, masyarakat sudah kurang care terhadap upaya pencegahan penularan. Kondisi ini akan lebih memburuk jika sekolah tatap muka kembali dibuka sebab penerapan physical distancing juga makin melemah.
Tidak hanya berisiko tinggi bagi anak, Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Anak Indonesia dr Kurniawan Taufiq Kadafi MBiomed SpA(K) menambahkan bahwa Indonesia kini menempati posisi pertama di dunia untuk kasus positif Covid-19 pada anak. ”Selain anak dengan kasus komorbid (mengidap penyakit bawaan), kasus pada ABK (anak berkebutuhan khusus) juga cukup tinggi di Indonesia. Banyak yang kurang care terhadap (risiko) ini padahal risiko mereka (terpapar) jauh lebih tinggi,” ujarnya dalam webinar kemarin (14/2).
Alumnus Universitas Brawijaya itu menuturkan, hasil penelitiannya menyebutkan bahwa anak dengan gangguan syaraf dan otot (neuromuskuler) lebih sering mengalami gagal napas dibandingkan pada anak yang hanya terkena virus influenza biasa. Secara keseluruhan, ABK mempunyai risiko lebih berat dengan gejala Covid-19 yang juga berat. Pada kasus di Indonesia ABK mempunyai rata-rata kematian lebih tinggi bila dibandingkan dengan anak biasa. Bahkan, untuk ABK tingkat rendah, mereka berisiko mengalami komplikasi usai terpapar korona.
”Ada yang berbeda pada kasus Covid-19 pada anak. Meski virusnya telah hilang, peradangan klinisnya masih dapat terjadi. Justru peradangan inilah yang menjadi bahaya,” jelasnya. Kadafi menambahkan, komorbid yang sering ditemui pada kasus kematian Covid-19 pada anak antara lain asma, penyakit jantung bawaan, obesitas, serta ginjal. Yang juga perlu menjadi perhatian khusus adalah persepsi masyarakat yang menganggap bahwa anak-anak sulit terserang Covid-19. Sebab, faktanya anak-anak justru menjadi media penular yang tercepat.
Meski saat ini belum ada peruntukan vaksin untuk anak-anak, Kadafi berharap ke depannya ada kebijakan yang dapat memprioritaskan vaksin kepada anak, terutama pada ABK. Begitu pula dengan ABK, banyak dari mereka yang merasa tersisih oleh lingkungan. Padahal, perhatian lebih yang diberi oleh pemerintah dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka.
Sebagai upaya antisipasi, Sekolah Luar Biasa (SLB) Autis Laboraturium UM berkomitmen melakukan pembelajaran daring. Kepala SLB Autis Lab UM Luthansyah Nur SPd MPd mengungkapkan, meski cukup menyulitkan, penerapan sekolah daring tetap jadi pilihan utama untuk menjaga keselamatan siswanya. ”Kami sengaja bedakan mekanisme sekolah daringnya, bukan menggunakan Zoom tapi dengan video call WhatsApp,” ujarnya. (rmc/cho/c1/iik) Editor : Ahmad Yani