Psikolog Sayekti Pribadiningtyas mengatakan, dalam ilmu psikologi, tindakan tersebut sudah termasuk gangguan mental dan harus disembuhkan. ”Sebenarnya fetish menyimpang sudah ada sejak dulu,” terangnya. Namun kecanggihan teknologi pada saat ini, menyebabkan hal itu bisa diketahui dengan cepat oleh masyarakat.
"Fetish itu banyak dan sejak dulu sudah ada. Tetapi dengan kecanggihan teknologi seperti saat ini bisa diketahui masyarakat," ujarnya.
Naning, sapaan akrabnya, menjelaskan ada beberapa cara untuk menyembuhkan perilaku fetish menyimpang. Pertama, pasien harus datang kepada ahli atau psikolog dan dengan kesadaran diri mengakui bahwa ada tindakan penyimpangan seksual dalam dirinya.
"Kedua, mereka datang ke ahli untuk melakukan terapi. Lalu, kami akan menggali penyebab utamanya dan dimulai sejak kapan. Karena tidak semua fetish munculnya tidak dari usia dini, bisa datang saat usia dewasa," terang psikolog yang juga mendampingi DA, terlapor kasus fetish mukena yang viral beberapa waktu lalu.
Setelah psikolog mengetahui penyebab utama penyimpangan tersebut, maka akan dilakukan intervensi dan treatment secara mendalam. Naning mengaku, untuk menyembuhkan mereka yang mengalami penyimpangan perilaku seksual membutuhkan waktu yang cukup panjang.
"Biasanya kalau sudah kecanduan setiap hari akan lebih berat (penyembuhannya), dibandingkan fetish yang melakukan seminggu dua kali. Kalau tiap hari akan lebih panjang lagi prosesnya," tuturnya.
Dia menjelaskan, untuk proses penyembuhan bisa dilakukan dengan kombinasi beberapa teknik terapi. Namun sebelum dilakukan, harus diketahui secara mendalam siapa pasien yang dihadapi hingga latar belakang pasien tersebut.
Pewarta: Andika Satria Perdana
Editor : Ahmad Yani